Home » Pendidikan

Category Archives: Pendidikan

Menghidupkan Komunitas Belajar Sekolah

Oleh: Lina Puspitaning Rahayu, S.Pd.

Guru SD N Gembongan, Kulon Progo

Pendidik merupakan salah satu faktor penting dalam kemajuan pendidikan. Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dijelaskan bahwa pendidik merupakan pendidik profesional yang memiliki tugas utama berupa mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi peserta didik baik pada pendidikan usia dini, pendidikan dasar, maupun pendidikan menengah. Menurut Undang-Undang tersebut, fungsi pendidik sangatlah vital bagi dunia pendidikan Indonesia. Oleh karena itu, seorang pendidik harus memiliki sejumlah kompetensi untuk menjalankan tugas utamanya sebagai seorang pendidik yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik, dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut harus dimiliki oleh seorang pendidik agar dapat mendidik peserta didiknya dengan baik.

Keberhasilan peserta didik tidak lepas dari peran dan tanggung jawab pendidik di sekolah. Kualitas pendidik berbanding lurus dengan kualitas peserta didik dan kualitas satuan pendidikan. Apabila Indonesia memiliki pendidik-pendidik yang berkualitas, akan tercipta peserta didik dan pendidikan nasional yang berkualitas. Namun realitanya, masih terdapat pendidik-pendidik yang kompetensinya kurang memadai.

Hasil riset Center Education Regulation and Development Analysis (CERDAS) pada tahun 2019 menunjukkan bahwa minat baca pendidik Indonesia masih tergolong rendah. Lebih lanjut, survei Bank Dunia pada tahun 2020 menunjukkan bahwa kualitas pendidik di Indonesia berada pada kategori rendah. Tidak jarang dijumpai di dalam satu satuan pendidikan, terjadi kesenjangan kompetensi antarpendidik, khususnya dalam kompetensi profesional. Ada pendidik yang memiliki kompetensi profesional sangat baik dan ada yang masih kurang. Contoh sederhananya, terjadi kesenjangan dalam hal penguasaan teknologi meski diketahui bahwa teknologi memiliki peran sangat penting untuk pembelajaran abad ke-21. Kesenjangan tersebut akan berdampak pada kualitas satuan pendidikan dan pengalaman belajar yang diterima oleh setiap peserta didik.

Kondisi di lapangan juga menunjukkan adanya kendala yang dialami oleh sejumlah pendidik untuk meningkatkan kompetensi profesional, belajar bersama, dan memecahkan permasalahan pembelajaran. Sejumlah permasalahan pembelajaran di kelas dialami oleh pendidik, misalnya rendahnya kemampuan literasi dan numerasi peserta didik. Tidak hanya itu, permasalahan lain seperti tiga dosa pendidikan (kekerasan seksual, intoleransi, dan perundungan) juga harus menjadi perhatian setiap pendidik. Permasalahan-permasalahan tersebut tentunya membutuhkan solusi dari setiap pendidik di satuan pendidikan.

Komunitas Belajar

Salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan dan kompetensi pendidik serta permasalahan pembelajaran adalah melalui komunitas belajar. Menurut Surat Edaran Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nomor 4263 Tahun 2003 tentang Optimalisasi Komunitas Belajar dijelaskan bahwa komunitas belajar merupakan wadah bagi pendidik dan tenaga kependidikan untuk belajar bersama dan berkolaborasi secara rutin, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga berdampak pada hasil belajar peserta didik. Komunitas belajar merupakan salah satu bentuk realisasi untuk membangun kolaborasi dengan sesama rekan pendidik.

Komunitas belajar dapat dilakukan di tingkat satuan pendidikan, atau disebut komunitas belajar intrasekolah. Pendidik dalam satu satuan pendidikan berkumpul untuk membahas beragam hal yang terkait dengan pembelajaran dan peserta didik. Pertemuan pendidik ini dilakukan secara rutin misalnya satu minggu sekali dengan agenda yang terjadwal dan terstruktur. Selain itu, pertemuan juga dapat dilakukan secara informal antarpendidik di lingkungan sekolah. Sekolah dapat menggunakan rapor pendidikan sebagai bahan untuk menentukan topik pertemuan komunitas belajar. Pendidik dalam satu sekolah dapat menentukan satu akar permasalahan yang direkomendasikan oleh rapor pendidikan. Akar masalah tersebut kemudian dibahas dan dicarikan solusi yang tepat sesuai dengan dukungan dan sumber daya yang dimiliki sekolah.

Dukungan Berbagai Pihak

Berdasarkan SE Dirjen GTK Nomor 4263 Tahun 2023 tentang Optimalisasi Komunitas Belajar juga dijelaskan bahwa peran pendidik, kepala sekolah, dan pengawas sekolah sangat penting terhadap transformasi pembelajaran paradigma baru. Keberhasilan komunitas belajar tidak lepas dari peran ketiga komponen tersebut. Komunitas belajar akan berhasil dan membawa dampak bagi kemajuan pendidikan apabila ketiga komponen tersebut melakukan perannya dengan penuh tanggung jawab.

Dalam komunitas belajar, pendidik tentunya harus memiliki semangat dan kepedulian untuk menggerakkan komunitas belajar. Kedisiplinan pendidik dalam belajar, berbagi dan berkolaborasi di komunitas belajar akan menjadi kunci kelangsungan komunitas belajar. Roh dari komunitas belajar adalah pendidik yang hausilmu sehingga tercipta iklim belajar yang positif untuk kemajuan pendidikan. Beberapa peran pendidik dalam komunitas belajar antara lain menetapkan waktu belajar bersama, berkolaborasi menyelesaikan masalah, berbagi praktik baik yang telah dilaksanakan, dan merefleksikan tindakan-tindakan yang telah dilakukan.

Keberhasilan komunitas belajar intrasekolah tidak lepas dari dukungan dan tanggung jawab dari kepala sekolah. Kepala sekolah bertugas untuk memberi dukungan dan motivasi kepada semua pendidik di satuan pendidikannya untuk dapat konsisten mengikuti komunitas belajar intrasekolah. Kepala sekolah memiliki peran untuk menggerakkan setiap pendidik di sekolahnya agar saling bergerak meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan. Tanpa dukungan kepala sekolah, komunitas belajar hanyalah sebuah nama, tanpa memiliki misi yang jelas. Kepala sekolah harus menjadi teladan bagi semua pendidik untuk menggerakkan komunitas belajar sehingga membawa dampak bagi kemajuan pendidikan di satuan pendidikan.

Peran pengawas sekolah juga tidak kalah penting dalam terselenggaranya komunitas belajar. Pengawas sekolah berperan untuk melakukan pendampingan kepada seluruh sekolah binaan dan untuk memberikan arahan kepada kepala sekolah dan pendidik tentang pembentukan komunitas belajar intrasekolah. Selain itu, pengawas juga memiliki peran dalam melakukan monitoring dan evaluasi terkait aktivitas komunitas belajar di setiap sekolah binaan. Tujuannya agar para pengawas mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi di komunitas belajar untuk kemudian dicarikan solusi yang tepat.

Manfaat Komunitas Belajar

Kolaborasi melalui komunitas belajar memiliki dampak yang luar biasa apabila dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Komunitas belajar membawa manfaat bagi pendidik, peserta didik, dan sekolah. Bagi pendidik, komunitas belajar dapat menepis kesenjangan kompetensi antarpendidik. Pendidik saling belajar dan mengisi satu sama lain sehingga semua pendidik di satuan pendidikan memiliki kompetensi yang setara. Dengan adanya kesetaraan kompetensi antarpendidik, peserta didik akan memperoleh pengalaman belajar dengan kualitas yang sama, siapapun pendidiknya. Ekosistem dan budaya belajar melalui komunitas belajar pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kualitas dan mutu satuan pendidikan.

Komunitas Praktisi SD Negeri Gembongan

Kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan SD Negeri Gembongan, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi DIY, merupakan orang-orang yang haus ilmu. Sekolah ini rutin melaksanakan pertemuan komunitas belajar setiap satu bulan sekali selama kurang lebih satu tahun. Setiap bulan, komunitas belajar SD Negeri Gembongan membahas beragam hal terkait dengan capaian rapor pendidikan. Seperti misalnya di bulan September 2023, komunitas belajar SD Negeri Gembongan membahas tentang iklim keamanan sekolah yaitu perundungan. Topik ini diambil karena berdasarkan hasil rapor pendidikan, tingkat perundungan di SD Negeri Gembongan masih tinggi. Melalui komunitas belajar, para pendidik di sekolah ini membahas beragam upaya untuk mengurangi perundungan dan berencana untuk menggandeng beberapa pihak, seperti orang tua peserta didik dan tokoh-tokoh agama setempat.

Selain komunitas belajar intrasekolah, SD Negeri Gembongan juga memiliki komunitas belajar daring yang telah terdaftar di Platform Merdeka Mengajar (PMM)dengan nama “Komunitas Praktisi SD Negeri Gembongan”. Komunitas ini memiliki 29 pengikut. Penulis merupakan salah satu penggerak Komunitas Praktisi SD Negeri Gembongan pada PMM. Komunitas Praktisi SD Negeri Gembongan telah mengadakan webinar di PMM dengan topik “Menghijaukan Rapor Pendidikan dengan Penguatan Literasi di Kelas Awal”. Narasumber dalam webinar tersebut yaitu Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo dan dua pendidik SD Negeri Gembongan. Kegiatan webinar tersebut dihadiri kurang lebih 80 peserta. Antusiasme peserta sangat tinggi yang ditunjukkan dengan banyaknya peserta yang mengajukan pertanyaan dan menyambut baik webinar ini.

Salah satu kendala yang dialami oleh komunitas praktisi ini adalah waktu pelaksanaan. Sebelumnya, pertemuan komunitas belajar ini direncanakan setiap Jumat minggu kedua setiap bulan. Namun, rencana tersebut tidak selalu dapat dijalankan karena berbenturan dengan kegiatan lain. Oleh karena itu, pelaksanaannya terkadang mundur dari jadwal yang telah ditetapkan. Meski demikian, kegiatan komunitas belajar ini selalu rutin dilaksanakan setiap bulan.

Kegiatan komunitas belajar membawa dampak positif bagi SD Negeri Gembongan. Pendidik-pendidik bisa belajar banyak hal, termasuk mencoba merefleksikan setiap pembelajaran yang dilaksanakan. Dari kegiatan refleksi ini, pendidik-pendidik menerima masukan dari sesama rekan pendidik untuk perbaikan pembelajaran. Melalui kegiatan komunitas belajar, pendidik-pendidik juga belajar beragam ilmu dalam menyikapi pembelajaran paradigma baru. Tulisan ini disusun untuk menggambarkan betapa pentingnya komunitas belajar dalam pengembangan dan peningkatan kualitas pendidik dan satuan pendidikan. Keberhasilan komunitas belajar tidak lepas dari tanggung jawab dan konsistensi pendidik, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Kemajuan satuan pendidikan tidak lepas dari dukungan para pendidik yang terus belajar sepanjang hayat.

Kisi-Kisi Soal UKG 2015

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menggelar Uji Kompetensi Guru secara online yang dilaksanakan mulai tanggal 9 s.d 27 November 2015 di seluruh wilayah Indonesia. UKG tahun 2015 akan diikuti oleh semua guru dalam jabatan baik guru PNS maupun bukan PNS dengan jumlah jenis soal yang akan diujikan adalah 192 mata pelajaran/guru kelas/paket keahlian/BK. Hasil UKG ini akan menjadi bagian dari penilaian kinerja guru dan disamping itu, hasil UKG juga digunakan sebagai bahan pertimbangan kebijakan dalam pemberian program pembinaan dan pengembangan profesi guru serta pemberian penghargaan dan apresiasi kepada guru.

Mengingat saat ini banyak beredar kisi-kisi soal UKG tahun 2015 di media online yang belum tentu kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan, maka PPPPTK Matematika dengan ini mengumumkan dan menghimbau kepada seluruh guru agar menggunakan kisi-kisi soal UKG 2015 dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Adapun sumber yang kami rekomendasikan bagi seluruh guru untuk memperoleh kisi-kisi soal UKG tahun 2015 adalah sebagai berikut:

  1. http://gtk.kemdikbud.go.id/kisi-kisi-ukg/
  2. http://sergur.kemdiknas.go.id/

Ketika Penugasan Kelompok disajikan di selembar Fotocopyan

Oleh : Estina

Beberapa waktu yang lalu kami berkesempatan untuk melakukan observasi pembelajaran di salah satu SD di Jawa Timur. Tepatnya adalah kelas IV SD. Materi yang disampaikan adalah materi penjumlahan dan pengurangan.

Salah satu metode pembelajaran yang dipakai guru pada proses pembelajaran tersebut adalah dengan belajar kelompok menyelesaikan tugas-tugas terkait dengan penjumlahan dan pengurangan.

Pada saat penugasan kelompok ini, guru memberikan satu lembar kertas yang berisi soal ke masing-masing kelompok. Soal antara kelompok satu dengan kelompok yang lainnya berbeda. Kemudian secara kelompok, soal-soal tersebut diselesaikan. Setelah batas waktu yang diberikan untuk menyelesaikan soal, kemudian guru meminta perwakilan masing-masing kelompok untuk menuliskan ke papan tulis jawaban soal tersebut. Pada saat perwakilan masing-masing kelompok menuliskan jawaban di papan tulis, tidak nampak guru meminta siswa untuk menyalin jawaban tersebut, pun demikian tidak ada permintaan guru kepada siswa untuk menyalin tugas kelompok tersebut di buku mereka.

Melihat kondisi demikian, kami sempat berpikir, jika guru hanya memberikan penugasan pada selembar kertas, kemudian juga tidak meminta siswa untuk melihat, dan tidak nampak aktivitas siswa menyalin soal-soal beserta jawabnya, maka siswa tidak memiliki catatan soal-soal tersebut. Sehingga kemungkinan siswa tidak bisa mengulang kembali soal-soal tersebut untuk dikerjakan di rumah. Memang kondisi demikian ada positif dan negatifnya.

Positifnya adalah, waktu pembelajaran cenderung lebih efektif, karena guru tidak menuliskan soal dipapan tulis, tetapi diganti dengan soal pada fotocopyan. Biaya penggandaan cenderung relatif murah, karena satu kelompok yang terdiri dari beberapa siswa hanya mendapatkan satu lembar fotocopyan.

Namun demikian, juga ada dampak negatifnya. Di antaranya adalah tidak semua siswa memiliki salinan dari soal-soal yang diberikan oleh guru, sehingga siswa tidak bisa mengulang kembali soal yang diberikan oleh guru. Variasi soal masing-masing kelompok berbeda, sehingga jika siswa tidak kreatif maka dia tidak akan mendapatkan bank soal dari kelompok lain.

Melihat kondisi demikian, beberapa hal yang dapat dilakukan, sehingga siswa dapat memiliki bank soal dan memiliki referensi belajar di rumah adalah guru meminta siswa untuk menggandakan sendiri soal yang diberikan baik pada kelompoknya maupun kelompok lain, atau guru meminta siswa untuk menyalin soal beserta jawabannya saat wakil kelompok mengerjakan ke depan. Dengan demikian, siswa tetap memiliki catatan pada buku mereka masing-masing dan bisa mengulang kembali pembelajaran saat itu di lain waktu maupun di lain tempat. Mungkin hal ini hal sederhana, akan tetapi jika tidak disikapi dengan tepat maka siswa akan kekurangan referensi belajar.

Pentingnya Analisis Buku Siswa Dalam Implementasi Kurikulum 2013

Oleh : Adi Wijaya

Perbedaan antara kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya salah satunya adalah adanya buku siswa dan buku guru yang sudah disediakan oleh pemerintah pusat sebagai buku wajib sumber belajar di sekolah. Buku siswa menjabarkan usaha minimal yang harus dilakukan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Dalam proses belajar, peserta didik dipacu untuk mencari dari sumber belajar lain yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Oleh karenanya peran guru sangat penting dalam meningkatkan dan menyesuaikan daya serap peserta didik dengan ketersedian kegiatan pada buku tersebut. Guru diharapkan dapat memperkayanya dengan kreasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan sosial dan alam daerah masing-masing. Dengan demikian, guru sebagai pengendali utama di dalam proses belajar mengajar di kelas perlu mencermati terlebih dahulu terhadap buku siswa maupun buku pegangan guru yang sudah disediakan pemerintah. Hal ini diperlukan mengingat buku yang disediakan oleh pemerintah ditujukan untuk keperluan skala nasional. Dengan demikian, sebelum menggunakan di kelas, tentunya guru diharapkan sudah membaca dan mencermati dengan melakukan analisis buku terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar jika terdapat ketidaksesuaian atau ketidaktepatan yang ada dalam buku tersebut, dapat dilakukan langkah-langkah tindak lanjut untuk mengatasinya lebih awal.

download file artikel

Penalaran dengan Analogi? Pengertiannya dan Mengapa Penting?

Oleh : Fadjar Shadiq

Dikenal dua macam penalaran, yaitu penalaran induktif (induksi) dan penalaran deduktif (deduksi). Analogi merupakan bagian dari penalaran induktif. Bagian penalaran induktif lainnya adalah ‘generalisasi’. Penalaran biasanya didefinisikan sebagai kegiatan, proses atau aktivitas berpikir untuk menarik suatu kesimpulan atau membuat suatu pernyataan baru berdasar pada beberapa pernyataan yang diketahui benar ataupun dianggap benar. Pernyataan yang diketahui benar ataupun dianggap benar itu biasanya disebut premis. Dengan demikian, dapatlah disimpulkan bahwa analogi merupakan bagian dari proses penarikan kesimpulan. Secara khusus, tulisan ini akan membahas tentang contoh-contoh analogi, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pembelajaran matematika, definisinya, dan kegunaan serta keunggulannya.

download file artikel

 

Tiga Hal yang Sering Ditanyakan Guru

Oleh : Fadjar Shadiq, M.App.Sc

Ketika memfasilitasi kegiatan diklat di PPPPTK Matematika ada tiga pertanyaaan yang sering ditanyakan peserta diklat.

download file artikel

Upaya Pemerataan Akses Pendidikan (DIKLAT) Melalui Berbagai Bentuk Kegiatan Diseminasi Hasil Diklat

Oleh: Adi Wijaya

Salah satu permasalahan yang dihadapi P4TK Matematika berkaitan dengan  peningkatan kompetensi guru adalah terbatasnya jumlah kuota diklat setiap tahunnya dibandingkan dengan jumlah guru Matematika yang ada di Indonesia.Dengan demikian peluang untuk dapat mengikuti diklat di P4TK Matematika secara tatap muka langsung sangatlah kecil. Dengan melihat kenyataan ini maka diseminasi atau pengimbasan hasil diklat kepada rekan sejawat di daerah masing-masing memegang peranan penting. Diseminasi hasil diklat dapat diartikan sebagai segala bentuk kegiatan penyebarluasan informasi atau hasil yang diperoleh selama mengikuti diklat kepada orang lain yang tidak secara langsung mengikuti diklat. Artikel ini bertujuan untuk menguraikan berbagai bentuk kegiatan diseminasi hasil diklat yang dapat digunakan sebagai upaya dalam mempercepat pemerataan akses pendidikan khususnya diklat. Berbagai bentuk kegiatan diseminasi hasil diklat yang diutarakan dirancang berdasarkan sasaran diseminasi hasil diklat yang akan dituju.

 download file artikel

Diklat Guru Di Era Digital

Oleh : MUH. TAMIMUDDIN H

Sudah beberapa malam Kartiyem seperti tak mau lepas dari laptopnya. Guru matematika di wilayah Lampung Tengah ini hampir setiap saat selalu online. Meski lokasi tinggalnya jauh dari kota besar dan dengan sinyal yang seadanya tak menyurutkan semangatnya untuk belajar melalui Internet. Di pulau lain, tepatnya di Nunukan, Kalimantan TImur yang berbatasan dengan wilayah Malaysia, Maslaeni, yang juga guru matematika, beberapa hari terakhir juga memiliki kebiasaan serupa, sibuk berkutat dengan laptop dan Internet bahkan sampai larut malam.  Maslaeni bahkan tak hanya harus berjuang dengan keberadaan sinyal Internet tapi juga dengan keberadaan aliran listrik yang sering padam, kontras dengan wilayah sebelah, yang notabene sudah masuk wilayah negri jiran, yang selalu terang benderang.  Kartiyem dan Maslaeni adalah dua orang guru matematika dari ratusan guru lain yang tengah mengikuti kegiatan diklat (pendidikan dan pelatihan) guru matematika secara jarak jauh dan dilakukan sepenuhnya secara online.

Adalah PPPPTK Matematika yang merupakan unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mulai menapak lebih serius dalam pemberdayaan guru matematika se-Indonesia dengan mengambil jalur yang non-konvensional ini, dimana kegiatan dilaksanakan online. Untuk mengikuti diklat peserta tidak harus datang secara fisik tapi dengan mengakses situs web yang telah disediakan, yaitu etraining.p4tkmatematika.org.

Diklat E-Training
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, e-learning  merupakan alternatif baru yang cukup menjanjikan. Beberapa lembaga pendidikan formal,khususnya perguruan tinggi, mulai memanfaatkan e-learning sebagai media pembelajarannya dan mulai diikuti kalangan lembaga kediklatan-pun mulai memanfaatkan e-learning sebagai media diklat, atau dalam hal ini sering disebut sebagai e-training.Efisiensi biaya dan luasnya jangkauan menjadikan e-training sebagai upaya baru untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia dengan cara  memberdayakan guru-guru yang jumlahnya jutaan melalui diklat. Dalam pembukaan kegiatan diklat online yang ditayangkan secara daring melalui situs Youtube, Kepala Pusat PPPPTK Matematika, Prof.Dr.rer.nat. Widodo, M.S. menyinggung mengenai tuntutan bagi guru-guru terutama dengan telah diberlakukannya Permenpan RB No. 16 tahun 2009 pasal 11 disebutkan bahwa guru tidak hanya mengajar dan menilai pembelajaran saja, tetapi guru harus melakukan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang meliputi pengembangan diri, publikasi ilmiah dan karya inovasi. Termasuk dalam pengembangan diri adalah mengikuti diklat. Dengan diberlakukannya peraturan ini maka dipastikan nantinya banyak guru-guru yang harus mengikuti diklat agar kenaikan pangkatnya tidak terhenti. Padahal lembaga diklat seperti PPPPTK Matematika jumlahnya sangat terbatas dengan kapasitas untuk mendiklat guru yang juga tidak sepadan dengan kebutuhan. Sebagai contoh saja, untuk guru bidang studi matematika, ditambah guru sekolah dasar (yang notabene juga harus mengajar matematika) jumlahnya mencapai lebih dari 1,5 juta yang kesemuanya tentu harus terus menerus ditingkatkan baik wawasan keilmuan maupun keterampilan mengajarnya.
Jika hanya mengandalkan diklat konvensional dengan tatap muka saja maka dibutuhkan waktu puluhan tahun agar semua guru merasakan diklat. Selain jumlah sasaran masalah lainnya adalah biaya penyelenggaraan yang pasti akan sangat besar.

Kualitas dan Jangkauan
Dari sisi konten, ketersediaan materi secara digital akan menjamin materi sesuai standar. Peserta diklat dari wilayah manapun akan dapat memperoleh materi yang sama persis.  Yang menjadi tantangan terbesar dari diklat semacam ini adalah bagaimana menjamin proses pembelajaran sesuai yang direncanakan, termasuk mencegah  adanya kecurangan. Untuk itu evaluasi pembelajarannya harus dilakukan dengan khusus.
Sementara itu sebaran peserta ternyata cukup merata. Kekhawatiran awal bahwa  guru-guru akan kesulitan mengikuti diklat seperti ini, mengingat faktor jangkauan internet dan rendahnya literasi TIK ternyata tidak sepenuhnya benar. Banyak guru-guru berinisiatif mengusahakan akses Internet sendiri, mengingat sekolah tidak tersedia atau tidak maksimal. Seringkali peserta juga harus pintar-pintar menyiasati keterbatasan, misalnya mengakses materi saat tengah malam dimana koneksi lebih cepat.Dari tulisan-tulisan peserta yang dipublikasikan di blog masing-masing, serta respon dan interaksi di forum diskusi, sebagian besar guru peserta diklat merasa sangat terbantu dan memperolah banyak manfaat dengan mengikuti diklat ini, meskipun semua proses dilakukan tanpa tatap muka sama sekali.

Jumlah sasaran yang lebih banyak, jangkauan lebih luas, biaya yang lebih efisien dan pelaksanaan yang fleksibel membuat e-training menjadi salah satu alternatif yang cukup menarik bagi peningkatan mutu guru yang nantinya diharapkan akan berimbas bagi peningkatan mutu pendidikan secara umum. Dengan e-training, Kartiyem, Maslaeni dan ribuan guru lain akan dapat meningkatkan kompetensi dengan lebih mudah bahkan tanpa harus meninggalkan kewajiban utamanya, yaitu mengajar di kelas.

 

Perubahan Kurikulum dan Tugas Guru

 

 

Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun 2013 baru saja usai, torehan hitam mewarnai agenda tahunan yang digelar oleh Kemendikbud sebagai pemegang otoritas pelaksanaaan asesmen  pendidikan  skala nasional. Digelarnya ujian yang tidak serentak (khususnya jenjang SMA/SMK), kualitas pencetakan soal, lembar jawab yang tipis, serta isu kebocoran masih menghiasi media masa terkait pelaksanaan UN. Isu ini cukup marak hingga sempat melupakan isu “perubahan” kurikulum yang santer diberitakan awal tahun 2013. Bayang-bayang hitam ini sempat menghantui Kemendikbud untuk meng-eksekusi  kurikulum 2013 dimana tahun ajaran 2013/2014 sudah di depan mata.

Hunkins & Ornstein (1998, 320) menyebutkan sebagai sebuah “guideline” dalam mengawal jalannya pendidikan, kurikulum idealnya dalam kurun waktu 7-10 harus dievaluasi atau dikaji ulang untuk disesuaikan dengan perkembangan jaman, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan  dinamika masyarakat. Artinya “perubahan” kurikulum atau tepatnya pengembangan kurikulum dari kurikulum yang sudah ada sebelumnya yakni KBK tahun 2004 ataupun KTSP tahun 2006 sudah sewajarnya untuk dikaji ulang. Bisa dipahami apabila sementara kalangan merasakan terlalu terburu-buru untuk diganti dengan kurikulum 2013, guru dan orang tua merasa baru “tune-in” dengan kurikulum sebelumnya akan tetapi justru akan diganti. Siswa merasa sudah ‘settle” dengan buku, LKS ternyata akan digantikan dengan buku dengan kemasan lain. Sementara para pemerhati ekonomi-pendidikan melihat,  pengembangan kurikulum yang membutuhkan dana trilyun-an rupiah merupakan pemborosan dana yang kadang sulit diukur keberhasilan maupun efektifitasnya.

Urgensi perubahan

            Sedikitnya ada 3 (tiga) alasan mendasar mengapa kurikulum kita perlu dikembangkan (Kemendikbud, 2012). Pertama, demographic dividend  atau bonus demografi. BPS tahun 2011 menyebutkan, struktur penduduk Indonesia th.2010 usia 0-9 th sebesar 45,93 juta, sementara usia 9-14 tahun  sebesar 43,55 juta. Apabila diproyeksikan 35-40 tahun ke depan, yakni memasuki 100 tahun, usia emas kemerdekaan kita (tahun 2045) mereka akan memasuki usia produktif.  Negara maju di Eropa juga Amerika  pada sekitar tahun tersebut dengan harapan hidup (life expectancy) yang tinggi, akan lebih banyak dibebani untuk menangani elder people (usia 70-an tahun ke atas yang notabene kurang produktif). Indonesia diuntungkan dengan jumlah usia produktif yang lebih banyak dan inilah  sumber daya manusia yang tentunya harus disiapkan dan digarap secara matang menghadapi tantangan global.   

            Kedua, global competitiveness atau persaingan global. Berkaca dari hasil TIMSS ataupun PISA sebagai parameter prestasi siswa pada skala internasional, kita perlu mengkaji kembali bagaimana praktik pembelajaran yang sebenarnya terjadi. Prestasi siswa kita masih cukup memprihatinkan.yakni pada peringkat 39 (TIMSS th. 2011) dan peringkat 42 (PISA th. 2010) menuntut kita untuk “mengintip” praktik pembelajaran di negara-negara yang berhasil dalam menerapkan scientific approach (yakni: mengamati, menanya, menalar, dan menyusun jejaraing/menyimpulkan) dalam membelajarkan siswanya. Paradigma konstruktivisme, collaborative learning, serta authentics assessment menjadi pilar-pilar pendidikan dalam mencerdaskan anak bangsanya.

            Ketiga, pergeseran paradigma pembangunan dari pembangunan yang berbasis sumber daya (alam) mengarah pada pembangunan berbasis peradaban.  Sumber daya alam bukan lagi sebagai modal pembangunan, akan tetapi peradabanlah yang akan menjadi modal pembangunan. Sumber daya manusia bukan lagi beban pembangunan, akan tetapi SDM beradablah yang menjadi modal pembangunan. Transformasi ini hanya bisa dilakukan dengan pendidikan. SDM beradab adalah SDM yang berpendidikan (berpengetahuan dan berketrampilan) dan berbudaya (berkarakter).  Fenomena negatif yang mengemuka: perkelahian pelajar, narkoba, korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam ujian (nyontek, kerpek, dsb). adalah bentuk lemahnya penguatan aspek afektif pendidikan yang mermuara pada dekadensi perdaban manusia.  

Tugas Guru.

            Menghadapi akan diberlakukannya kurikulum 2013 secara bertahap dan terbatas, setidaknya ada 3 (tiga) hal yang bisa dilakukan guru. Pertama, perubahan mind set/pola pikir. Pengembangan kurikulum dengan pendekatan saintifik memungkinkan siswa untuk terlibat aktif  dalam pembelajaran melalui mengamati, menanya, menalar pada proses inquiry, eksplorasi, dan elaborasi. Perubahan pola pikir guru dibutuhkan untuk bisa berperan lebih menjadi fasilitator dan motivator dari pada inisiator dan eksekutor, dalam merubah dari teacher centered ke student centered. Implementasi collaborative learning akan membantu siswa bisa menyikapi keberagaman dan kerjasama sebagai etos akademik dalam menemukan dan mengungkap feomena ilmiah, yakni dari kebiasaan anak diberi tahu mengarah kepada memfasilitasi anak mencari tahu.  Sementara authentics assessment semakin dikedepankan sebagai assessment for learning dari pada assessment of learning.  Hal-hal tersebut bisa terwujud tatkala ada good will dari para guru untuk merubah mind set-nya bahwa tugas mengajar adalah sebagai komitmen profesi dalam membelajarkan dan mencerdaskan anak bangsa.  

            Kedua, tindakan konstruktif dan inovatif. Rencana pengembangan kurikulum 2013 yang akan diikuti dengan fasilitasi buku siswa, buku pedoman guru, maupun silabus serta RPP-nya tentunya tidak malah membuat guru merasa “santai”  dalam mengajar. Akan tetapi hal ini dimaksudkan dengan harapan guru tidak lagi terlalu disibukkan dengan hal-hal yang bersifat administratif, tetapi lebih fokus pada kegiatan inovatif akademis pembelajaran di kelas. Keunikan peserta didik, keragaman lingkungan belajar, maupun keterbatasan sarana/prasarana yang ada  adalah adagium pedagogis yang harus disikapi tentunya dengan penyesuaian strategi/model pembelajaran yang adaptif dan edukatif. Artinya, guru justru harus mengkritisi secara konstruktif dan inovatif  buku, silabus, dan RPP yang ada untuk disesuaikan dengan peserta didiknya. Ibarat seorang pastry; meski resep dan bahan rotinya sama, namun di tangan pastry yang profesional akan dihasilakn roti yang berbeda dengan pastry yang amatiran. Keahliaan, kejelian dan kecerdasan guru dalam meramu “ kompetensi inti, dan kompetensi dasar; aspek sikap, pengetahuan, dan aspek keterampilan; akan menghasilkan siswa yang kompeten dan men-drive berpikir high order thinking dalam bangku sekolahnya guna keberlanjutan pada jenjang berikutnya. Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) baik melalui  level sekolah maupun kelompok/wadah se-profesi (KKG/MGMP), perlu ditingkatkan untuk saling asah, asih, dan asuh sesama kolega guna menghasilkan siswa-siswa yang cerdas dan unggul.   

            Ketiga, sikap teladan guru. Seiring dengan kompleksitas dan perkembangan peradaban dunia di era globalisi, tugas mendidik guru perlu dikedepankan dalam aspek penguatan sikap dan budi pekerti siswa.   Pendidikan karakter tidak hanya terhenti pada pengetahuan saja akan tetapi perlu suatu pengintegrasian pada pembiasaan pembelajaran, suri tauladan, apresiasi dan implementasi  norma akademis yang nantinya tercermin pada norma sosial yang semakin utuh dalam praktik berbangsa dan bernegara. Terkait dengan hal tersebut,  tugas guru utamanya untuk mengintegrasikan nilai sikap dan pendidikan karakter dalam praktik pembelajaran yang diampunya, yang selanjutnya akan menjadi school culture untuk bisa merambah entitas diri pribadi siswa yang berkarakter. Inilah yang dibutuhkan dalam kehidupan kelak menyongsong ketatnya persaingan global untuk tetap berpegang pada jati diri bangsa.                          

Suatu keharusan?

            Tatkala kita meng-“amin-i” rasional urgensi perubahan di atas, maka kita sepakat bahwa pengembangan kurikulum dibutuhkan dalam menyiapkan generasi mengahadapi ulang tahun emas kemerdekaan kita. Pengembangan kurikulum diharapkan akan menciptakan sumber daya manusia yang produktif, kreatif, inovatif dan afektif.  Penguatan kemampuan afektif yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi, serta pembiasaan untuk bekerja dalam jejaring melalui collaborative learning, penguatan kreativitas, serta pendidikan karakter akan membekali dalam memenangi ketatnya persaingan global. Namun demikian, sekiranya kita sanksi akan rasional urgensi di atas, bukan tidak mungkin kita  menelantarkan anak cucu kita dalam kancah atau “kubangan” globalisasi yang bisa mengancam integritas dan jati diri bangsa dalam wadah NKRI. Adalah tugas pemerintah untuk menjalankan amanah ini dengan transparan, akuntabel dan visioner dalam integritas dan dedikasi kenegarawanan seorang pemimpin. Sementara masyarakat akan selalu mengawal implementasi dan pengawasannya. Sekali lagi tahun ajaran 2013/2014 di depan mata,  pelaksanaan UN menjadi pelajaran berharga jika ingin meng-eksekusi kurikulum 2013 secara bertahap dan terbatas ataupun dalam bentuk piloting.   

                                                                                                      

Referensi

Kemendikbud (2012). Pengembangan Kurikulum 2013 (Paparan Mendikbud pada SosialisasiKurikulum 2013 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, tgl. 28 Februari 2013. 
 
Ornstein, A.C. & Hunkins, F.P. (1998). Curriculum: Foundations, principles, and issue.(3rdEdition)  MA. Allyn & Bacon.  
 

Penyusunan Lembar Kegiatan Siswa ( LKS ) sebagai Bahan Ajar

Oleh : Dra. Theresia Widyantini, M.Si

Sebelum pelaksanaan  pembelajaran di kelas, seorang  guru perlu  menyiapkan bahan ajar yang diperlukan dalam proses pembelajaran. Bahan ajar yang lengkap akan membantu guru dalam  mengajar, dan membantu siswa dalam proses belajar. Suatu bahan ajar ikut menentukan pencapaian tujuan pembelajaran. Lembar kegiatan siswa atau sering disingkat dengan LKS yang dibuat oleh guru untuk membantu pelaksanaan pembelajaran di kelas merupakan bagian dari suatu bahan ajar.  Pengertian bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.  Bahan ajar dapat  berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. (National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Training). Sebagaibagian dari bahan ajar maka lembar kegiatan  siswa haruslah disusun secara sistematis sehingga mendukung tercipta lingkungan/suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.  

Download file ” Penyusunan Lembar Kegiatan Siswa sebagai Bahan Ajar”