Home » Articles posted by rina13

Author Archives: rina13

Membangun Makna Belajar dengan Pembelajaran Berdiferensiasi

Oleh: Ahmad Hidayat, M.Pd

Guru SDN Tugu Selatan 03

Dewasa ini, pendidikan tidak hanya dipandang sebagai sebuah kegiatan formal dalam menuntaskan wajib belajar belaka. Pendidikan telah bertransformasi menjadi suatu proses yang menyeluruh. Proses yang tidak hanya bertumpu pada tujuan belajar apalagi hanya sekadar lulus. Proses yang dimana murid mampu mengembangkan seluruh potensinya dengan gaya belajar yang mereka sukai. Proses yang menghantarkan murid menjadi seorang manusia yang menyatakan dengan penuh semangat bahwa belajar adalah hal yang paling mengasyikan, dan bapak ibu guruku adalah bapak ibu guru hebat yang pernah aku temui. Proses yang mendekatkan murid pada konsep pembelajaran abad 21, yaitu murid yang kreatif, inovatif, kolaboratif, komunikatif, berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah. Murid yang kelak dapat menebar manfaat di sekitarnya sekaligus mampu bersaing ditingkat global, dan tentunya murid yang memiliki semangat Profil Pelajar Pancasila. Proses Pendidikan telah memiliki makna luas, terus menjadi sorotan dan terus akan mendapatkan banyak tantangan ke depannya. Pertanyaannya adalah bagaimana pendidik menyikapi ini semua?

Perlu digaris bawahi bahwa dalam menjalankan tugasnya, seorang pendidik harus menyesuaikan dan memahami kodrat alam dan kodrat zaman murid. Ini sesuai dengan prinsip pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan dimana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama (Ki Hadjar Dewantara yang dikutip oleh Tarigan, dkk: 2022). Menurut Hendri dalam Santika (2023), visi pedagogis Ki Hadjar Dewantara yang relevan dengan pendidikan kontemporer saat ini adalah bahwa setiap anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya, baik kodrat alam maupun kodrat zaman.  Kodrat alam adalah karakteristik unik dan kecenderungan yang dimiliki anak dalam belajar dan berinteraksi. Berbeda dengan kodrat alam, kodrat zaman selalu maju menyesuaikan dengan kemajuan alam dan zaman (tijd en  ruimte) seiring dengan olah budaya manusia.

Sumber Pribadi: Murid harus dikenalkan dengan teknologi dalam pembelajaran sebagai bagian dari kodrat zaman.

Berdasarkan hal tersebut maka dapat diartikan bahwa bahwa setiap anak sudah membawa sifat atau karakternya masing-masing, tugas kita sebagai pendidik menuntun pertumbuhan murid agar mampu mengembangkan secara optimal kekuatan kodrat dan potensi yang ada dalam diri sehingga tidak bergantung pada orang lain dan menjadi manusia yang merdeka, selamat dan bahagia. Dari kedua aspek tersebut (alam dan zaman) maka dapat dipahami bahwa dalam proses mengajar kita harus memandang murid sebagai suatu objek yang memiliki sifat, lingkungan, minat dan bakat yang berbeda-beda, namun mereka harus sama-sama dapat membangun diri untuk belajar dan memiliki keterampilan sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berkembang. Oleh karena itu pemenuhan kebutuhan pembelajaran harus disesuaikan dengan masing-masing ragam kebutuhan murid. Konteks inilah yang harus dikembangkan guru dalam proses pembelajaran. Konsep pembelajaran ini biasa disebut dengan pembelajaran berdiferensiasi.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang disusun berdasarkan profil belajar murid yang bertujuan untuk mengakomodasi semua kebutuhan murid agar murid dapat berpartisipasi penuh selama proses belajar. Renzuli (1977) mengatakan bahwa “Differentiation is an attempt to address the variation of learners in the classroom through multiple approaches that modify instruction and curriculum to match the individual needs of students” Pernyataan tersebut menegaskan dengan jelas bahawa tujuan diferensiasi adalah mewujudkan pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan individu siswa. Menurut Fatimah dan Rezekim Muamar (2023) bahwa ada 3 (tiga) elemen penting dalam pembelajaran berdiferensiasi yaitu konten (tentang apa yang dipelajari), proses (tentang cara mendapatkan informasi) dan produk (tentang cara mendemonstrasikan apa yang telah dipelajari). Ketiga elemen tersebut dapat dilakukan modifikasi dan adaptasi berdasarkan asesmen yang dilakukan sesuai dengan tingkat kesiapan murid, ketertarikan dan learning profil. Sementara itu, Renzuli dalam Sally M. Reis & Joseph S. Renzulli (2018) memberi pernyataan yang lebih detail lagi yakni menjadi 5 (lima) dimensi diferensiasi, yakni content, instruktional startegies (Strategi Pembelajaran/Instruksi), the calssroom (lingkungan belajar), product, dan the teacher (guru/fasilitator).

Mengapa pembelajaran berdiferensiasi ini begitu penting untuk diaplikasikan di kelas? Pertanyaan tersebut akan penulis arahkan kepada hasil atau tujuan dari pendidikan. Mau seperti apa generasi masa depan Indonesia di masa mendatang? Di masa depan kita butuh generasi yang memiliki kompetensi bertaraf global, yaitu generasi yang memiliki cara berpikir memecahkan masalah dengan wawasan dan pengalamannya, generasi yang memiliki keterampilan untuk hidup dan menghidupkan peradaban, generasi yang mampu bekerja sama, berkomunikasi dengan baik, dan mampu berkarya dengan segenap kemampuan yang telah dipertajam pada masa pendidikannya. Generasi seperti itu hanya akan terbentuk jika kita memahami dan memenuhi kebutuhan belajar mereka, minat dan bakat mereka, lingkungan belajar mereka, pemahaman konsep akan  konteks materi terkini dan tentunya rasa percaya diri yang tinggi. Jadi, seberapa penting pembelajaran berdiferensiasi dilakukan? Jawabannya adalah sangat penting. Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana membangun makna belajar dengan pembelajaran berdiferensiasi?

  1. Memetakan kompetensi dan kebutuhan murid.

Langkah pertama dalam menunaikan pembelajaran berdiferensiasi yang baik adalah memetakan kompetensi dan kebutuhan murid. Kompetensi dan kebutuhan yang seperti apa? Misal seperti mengetahui kesiapan belajar murid, yang meliputi pemahaman awal murid (pengetahuan pra syarat),  mengetahui profil belajar murid (gaya belajar, minat dan bakat), keterampilan yang dikuasai atau diminati serta mengetahui ketertarikan murid akan suatu materi tertentu. Langkah ini sangat penting untuk menyesuaikan pembelajaran agar murid berpartisipasi penuh dalam proses pembelajaran.

Cara untuk memetakan kompetensi dan kebutuhan murid adalah dengan melakukan asesmen awal. Pada proses ini, asesmen dilakukan di awal semester ataupun di awal pembelajaran (memasuki topik baru) untuk mengetahui kemampuan awal, kebutuhan belajar dan kemampuan umum murid. Asesmen harus dirancang secara adil, proporsional, valid dan reliabel (dapat dipercaya). Secara umum ada 3 teknik dalam melakukan asesmen awal. Yakni dengan teknik observasi, performa dan tertulis.

Misal dengan teknik observasi kita dapat melakukan pengamatan secara langsung dan tidak langsung. Seperti mewawancarai siswa, berkomunikasi dengan orang tua dan dengan guru mata Pelajaran atau walikelas sebelumnya.  Teknik performa, pada asesmen awal kita dapat melihat portofolio murid seperti project yang pernah dikerjakan ataupun karya-karya lain yang dapat menjadi data akurat. Dan terakhir adalah Teknik tertulis, kita dapat melakukan survey dengan menggunakan angket atau tes tertulis untuk mengetahui informasi yang kita butuhkan.

2. Memfasilitasi kebutuhan murid untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Langkah kedua adalah memfasilitasi kebutuhan murid untuk mencapai tujuan pembelajarannya. Pada proses ini kita dapat memodifikasi proses, konten dan produk akhir dalam proses pembelajaran. Bagaimana cara memfasilitasinya? Dasar pemikiran dalam proses memfasilitasi harus bersumber pada data kebutuhan murid. Sarana dan sumber belajar harus berpihak dan mengakomodasi kebutuhan murid. Proses ini juga akan membawa kita untuk berpikir kritis, kreatif dan inovatif dalam merancang proses pembelajaran dalam satu kali pertemuan di kelas. Seperti yang kita pahami bersama bahwa pembelajaran di kelas perlu dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian murid.

3. Melakukan manajamen kelas.

Langkah selanjutnya yang tak kalah penting adalah melakukan manajemen kelas. Langkah ini dilakukan agar suasana kelas dan suasana belajar dapat berjalan dengan nyaman dan teratur. Suasana kelas yang seperti itu harus kita upayakan dan harus kita wujudkan agar murid memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar. Beberapa ragam strategi manajemen kelas yang dapat kita lakukan adalah:

  1. penentuan tata letak kelas
  2. pengelompokan kelas
  3. membuat kesepakatan dan keyakinan kelas
  4. meningkatkan hubungan positif antara guru dan murid
  5. melibatkan murid dalam segala aspek pembelajaran.

4. Merancang konsep pembelajaran secara utuh.

Langkah selanjutnya adalah merancang konsep pembelajaran secara utuh. Dalam hal ini bapak ibu guru harus membuat modul ajar yang telah didesain sedemikian rupa dengan mempertimbangkan unsur eksternal yang sesuai seperti asesmen awal, model pembelajaran, metode yang digunakan untuk memfasilitasi keberagaman murid, media dan aplikasi sebagai media pembantu, LKPD, serta unsur lain seperti penilaian formatif dan sumatif, penggunaan teknologi dalam proses belajar, serta alokasi waktu. Hal ini penting agar setiap alur pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan efektif.

Sumber pribadi: Penggunaan model, metode dan media pembelajaran menjadi bagian penting yang tidak boleh dilupakan (ilustrasi).

5. Mefasilitasi proses pembelajaran dengan penuh semangat dan percaya diri.

Langkah terakhir adalah memfasilitasi proses pembelajaran dengan penuh semangat dan percaya diri. Ini adalah proses kunci. Apabila bapak ibu sudah menyiapkan semuanya dengan matang maka percayalah bapak ibu telah meminimalisir kesulitan dalam mengajar di kelas. Lakukan semuanya dengan penuh semangat dan percaya diri, karena energi bapak ibu dalam mengajar akan memberikan kekuatan bagi murid dalam memaknai proses belajar. Sehingga kelas dapat menjadi rumah belajar yang nyaman dan penuh dengan dukungan dari segala arah, serta belajar menjadi proses yang seru, menantang, bermakna dan menyenangkan.

Daftar Pustaka:

Fatimah dan M Rezeki Muamar. (2023). Analisis Kebutuhan dan Karakteristik Peserta Didik. Penerbit Deepublish: Yogyakarta

Iffa Dian Santika dan Binti Khoiriyah. (2023). Pembelajaran Berdiferensiasi dan Relevansi Visi Pedagogis Ki Hajar Dewantara dalam Mewujudkan Merdeka Belajar. Jurnal Pendidikan dan Konseling Volume 5 Nomor 1

Modul Diferensiasi dalam Pembelajaran. Platform Merdeka Mengajar: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Modul Prinsip dan Fungsi Asesmen. Platform Merdeka Mengajar: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Renzulli, J. S. (1997, July). Five dimensions of differentiation. Keynote presentation at the 20th Annual Confratute Conference, Storrs, CT.

Renzulli, J.S. (1977). The enrichment triad model. Mansfield Center, CT: Creative Learning Press.

Sally M. Reis & Joseph S. Renzulli. (2018). The Five Dimensions of Differentiation. International Journal for Talent Development and Creativity – 6(1).

Tarigan, Mardinal; dkk. (2022). Filsafat Pendidikan Ki Hajar Dewantara dan Perkembangan Pendidikan di Indonesia. UIN Sumatera Utara: Jurnal pendidikan Guru Sekolah Dasar Vol. 3– No. 1.

Numerasi Menyenangkan, Peserta Didik Kian Cekatan

Oleh: Lina Puspitaning Rahayu, S.Pd.

Guru SD Negeri Gembongan, Kulon Progo

Numerasi menjadi salah satu kemampuan dasar yang perlu dimiliki setiap individu. Apa itu numerasi? Numerasi adalah kemampuan berpikir untuk menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari dalam berbagai jenis konteks yang relevan dengan individu (Perdirjen GTK Kemendikbudristek No. 0340/B/HK.01.03/2022). Dalam numerasi, peserta didik belajar bahwa dengan penalaran dan asumsi yang tepat, mereka dapat memecahkan masalah sehari-hari.

Kehidupan manusia tidak lepas dari numerasi. Proses jual-beli misalnya. Hampir semua individu melakukan proses jual-beli dan proses jual-beli ini tentu membutuhkan keterampilan numerasi. Masih banyak contoh lain yang membutuhkan keterampilan numerasi. Oleh karena itu, belajar numerasi merupakan suatu hal yang penting bagi seorang individu.

Numerasi dapat meningkatkan keterampilan seseorang dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari (Lindquist et al., 2019), (OECD, 2017). Tidak hanya itu, individu yang memiliki keterampilan numerasi akan memiliki peluang dan pilihan yang lebih besar dalam membentuk masa depannya (NCTM, 2000). Hal ini disebabkan seseorang yang terampil dalam numerasi akan memiliki banyak peluang untuk memilih pekerjaan dan aktivitas yang berhubungan dengan numerasi. Demikianlah penjabaran pentingnya numerasi bagi individu dalam kehidupan sehari-harinya.

Namun, sering kali pendidik di kelas menjumpai kalimat-kalimat, “pelajaran yang paling tidak saya suka adalah berhitung,” atau “nilai matematika saya selalu buruk”. Kalimat tersebut adalah beberapa pernyataan paling sering diungkapkan oleh peserta didik sekolah dasar; yang menunjukkan kecemasan dan ketidaksukaan mereka terhadap numerasi. Munculnya kekhawatiran atas rendahnya skor akademis dan konsekuensi yang akan diperoleh pada gilirannya dapat membentuk rasa takut yang berlebihan. Hal ini akan menghadirkan kecemasan peserta didik terhadap numerasi. Kecemasan semacam inilah yang sulit diatasi karena tidak selalu tampak, kecuali digali dengan pendekatan interpersonal.

Selain itu, hasil survei PISA 2018 (https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/12/hasil-pisa-indonesia-2018-akses-makin-meluas-saatnya-tingkatkan-kualitas) menempatkan Indonesia di urutan ke-74 alias peringkat keenam dari bawah. Kemampuan membaca peserta didik Indonesia di skor 371 berada di posisi 74, kemampuan numerasi mendapat 379 berada di posisi 73, dan kemampuan sains dengan skor 396 berada di posisi 71. Hasil PISA ini menunjukkan bahwa kemampuan numerasi peserta didik di Indonesia masih tergolong rendah.

Menengok hal tersebut, diperlukan upaya dari para pendidik untuk menciptakan pembelajaran numerasi yang bermakna dan menyenangkan. Lalu, bagaimana upaya yang dapat dilakukan pendidik untuk meningkatkan kemampuan numerasi peserta didiknya?

Hal pertama dan utama yang harus dilakukan adalah mengetahui kemampuan awal numerasi setiap peserta didik. Bagaimana caranya? Asesmen awal numerasi adalah jawabannya.

Peserta didik itu unik

Seperti yang kita tahu, setiap peserta didik itu unik. Mereka memiliki kemampuan yang berbeda satu dengan lainnya. Pendidik harus mengetahui karakteristik perkembangan setiap peserta didiknya. Hal ini diperlukan karena proses pembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan setiap peserta didik.

Berdasarkan alasan tersebut, asesmen awal numerasi diperlukan untuk mengetahui kemampuan awal numerasi dari setiap peserta didik. Asesmen awal numerasi menjadi bekal awal bagi pendidik untuk memetakan kemampuan dan kebutuhan peserta didik. Tujuannya agar pendidik dapat merancang pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Selain itu, asesmen awal numerasi juga diperlukan agar pendidik dapat memberikan bimbingan sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta didik.

Asesmen numerasi perlu dilakukan oleh pendidik pada awal pembelajaran. Pelaksanaan asesmen awal numerasi harus disesuaikan dengan kondisi psikologis peserta didik, terutama peserta didik di kelas 1 SD yang notabene baru saja memasuki dunia sekolah dasar. Dalam melaksanakan asesmen numerasi, pendidik harus memastikan peserta didik dalam kondisi yang aman dan nyaman. Tujuannya agar peserta didik tidak merasa takut dan panik saat melaksanakan asesmen. Asesmen awal untuk peserta didik kelas 1 SD perlu dilakukan tetapi bukan dalam bentuk tes, tetapi bisa dengan observasi, unjuk kerja, atau bentuk lain agar peserta didik merasa nyaman dan tidak stress. Guru SD kelas awal perlu mempelajari Transisi PAUD-SD yang menyenangkan.

Ide-Ide Pembelajaran Numerasi

Setelah kegiatan asesmen awal numerasi selesai dilaksanakan kepada semua peserta didik, pendidik akan mendapatkan informasi mengenai kemampuan numerasi awal peserta didik. Berdasarkan hasil asesmen, pendidik akan membuat rencana tindak lanjut. Selanjutnya, pendidik merancang strategi pembelajaran untuk memaksimalkan setiap kemampuan peserta didik.

Pembelajaran numerasi dapat dikemas menjadi pembelajaran yang asyik berbantuan dengan telepon pintar maupun komputer atau bisa kita sebut dengan media digital. Sebagaimana dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara, pendidik perlu mendidik setiap peserta didiknya sesuai dengan tuntutan zaman. Pembelajaran di kelas harus disesuaikan dengan zaman serba digital. Media digital dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Pendidik perlu merencanakan dan memilih permainan yang sesuai untuk peserta didik agar tidak sekadar bermain, namun juga berinteraksi dan berdiskusi dengan rekan sebayanya untuk meningkatkan kemampuan numerasi.

Ada banyak ide yang dapat digunakan oleh pendidik dalam pembelajaran numerasi. Salah satu ide pembelajaran numerasi berbantuan telepon pintar yang dapat dimanfaatkan oleh pendidik dalam melakukan pembelajaran numerasi adalah aplikasi Math City Map (MCM). Math City Map merupakan satu aplikasi berbasis GPS yang dapat melatih kemampuan berpikir kritis peserta didik untuk menyelesaikan permasalahan realistis di lingkungan sekitar peserta didik. Melalui aplikasi Math City Map ini, pendidik dapat membuat permasalahan berdasarkan lingkungan sekitar peserta didik. Pendidik dapat menciptakan trail (jejak atau peta) kemudian menuliskan soal numerasi yang berkaitan dengan peta yang telah dibuat tadi.

Melalui aplikasi Math City Map, peserta didik akan diminta untuk mencari beberapa titik lokasi yang telah tertera pada aplikasi. Peserta didik akan berhenti di satu titik lokasi dan mendapatkan tantangan (soal). Soal ini berkaitan dengan lingkungan dan beragam benda yang ada di sekitar peserta didik. Pada tantangan ini hanya tersedia beberapa petunjuk (hints). Tantangan yang disediakan memiliki jawaban terbuka sehingga peserta didik dapat bereksplorasi dengan berbagai cara untuk menemukan solusi. Setelah menjawab tantangan, peserta didik akan memperoleh skor sesuai dengan ketepatan jawaban. Peserta didik dapat saling berdiskusi untuk menemukan jawaban yang tepat.

Praktik Baik MCM

Pembelajaran dengan Math City Map merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menguatkan kemampuan numerasi peserta didik. Berikut langkah-langkah pembelajaran dengan Math City Map dilakukan.

Pertama, setiap kelompok diminta untuk mengunduh aplikasi Math City Map melalui Playstore atau  iOS.

Kedua, setelah aplikasi terunduh, peserta didik dapat menambahkan trail dengan memasukkan kode yang diberikan oleh pendidik. Ketiga, peserta didik dapat melihat tampilan trail yang akan dilakukan yaitu trail SD Negeri Gembongan. Peserta didik dapat melanjutkan dengan meng-klik tombol “Lanjutkan Trail”. Keempat, peserta didik dapat bereksplorasi ke setiap titik tujuan dan mengerjakan tantangan yang telah disediakan. Peserta didik berdiskusi dengan setiap anggota kelompoknya untuk menyelesaikan tantangan yang ada.

Pada gambar 2 di bawah tersaji pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik. Misalnya, “apabila pinggiran jendela kelas 2 akan dihias dengan menggunakan pita, berapakah perkiraan panjang pita yang dibutuhkan?”. Peserta didik dapat memanfaatkan panjang lebar setiap ubin yang ada di bawah jendela ataupun peserta didik dapat menggunakan tali yang sebelumnya sudah disiapkan sebagai alat bantu untuk menghitung. Soal-soal tersebut merupakan soal terbuka yang memiliki rentang jawaban sehingga peserta didik dapat bereksplorasi dengan menggunakan beragam cara.

Peserta didik yang telah berdiskusi dapat menuliskan jawaban pada aplikasi Math City Map. Setelah menuliskan jawaban, peserta didik dapat mengetahui skor yang diperoleh. Peserta didik tampak senang dalam mengikuti pembelajaran numerasi dengan menggunakan aplikasi Math City Map ini. Setiap kelompok terlihat serius dalam berdiskusi untuk menemukan jawaban yang benar.

Dengan berdiskusi dan berkelompok, peserta didik tampak yakin dalam menyelesaikan setiap tantangan. Dengan berbagai alat bantu seperti tali dan penggaris, peserta didik dapat memanipulasi berbagai alat bantu sehingga peserta didik tampak memiliki keyakinan yang lebih tinggi. Peserta didik juga jauh lebih senang dan antusias dalam pembelajaran numerasi dengan menggunakan Math City Map. Peserta didik dapat belajar di luar kelas dan juga dapat mengeksplorasi lingkungan  sekitarnya. Peserta didik tampak bekerja sama dan melakukan komunikasi yang positif dengan sesama rekan kelompoknya. Selain itu, peserta didik juga terlatih untuk berpikir kritis dan berinovasi dalam memecahkan masalah yang disajikan.

Numerasi merupakan salah satu keterampilan yang dibutuhkan setiap peserta didik menghadapi tantangan abad 21. Kemampuan numerasi dibutuhkan untuk memecahkan kehidupan sehari-hari. Kemampuan numerasi dapat diasah melalui pembelajaran yang menyenangkan berbantuan dengan media digital pada telepon pintar. Math City Map merupakan salah satu ide pembelajaran numerasi yang menyenangkan dan dapat mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif setiap peserta didik.

Dengan adanya ide-ide brilian dari para pendidik, niscaya kualitas pendidikan di Indonesia akan semakin berkualitas. Pendidik yang berkualitas akan menciptakan peserta didik yang berkualitas. Ide-ide kecil para pendidik merupakan lentera-lentera kecil yang akan menerangi generasi Indonesia menjadi generasi berkualitas.

REFERENSI

Lindquist, M., Philpot, R., Mullis, I. V. S., & Cotter, K. E. (2019). TIMSS 2019 Mathematics Framework Mary. In I. V. S. Mullis & M. O. Martin (Ed.), Timss 2019 Assessment Frameworks. Chestnut Hill: TIMSS & PIRLS International Study Center.

NCTM. (2000). Principles and Standards for School Mathematics. United States of America: The National Council of Teachers of Mathematics, Inc.

OECD. (2017). PISA 2015 Assessment and Analytical Framework: Science, Reading, Mathematic, Financial Literacy and Collaborative Problem Solving. Paris: OECD Publishing. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.1787/9789264281820-en

Kewirausahaan sebagai Bekal Siswa Menjawab Tantangan Global

Oleh: Mita Septiana

Guru SMP Muhammadiyah 10 Yogyakarta

  1. PENDAHULUAN

Tantangan global saat ini mendesak seluruh dunia pendidikan untuk mempersiapkan bekal masa depan siswa menjadi generasi bertalenta. Maksud bertalenta disini adalah siswa sejak dini sudah dibekali dengan berbagai macam skill atau keterampilan. Sekolah mempunyai peran strategis untuk membekali lulusannya menjadi kreatif dan memiliki kecakapan hidup (life skill) (Noviani et al., 2022). Jawaban untuk menjawab berbagai tantangan global sebenarnya relevan dengan program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dengan diberlakukannya kurikulum merdeka yang didalamnya terdapat kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah pembelajaran lintas disiplin ilmu untuk mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitarnya (Sufyadi et al., 2021). Konsep dari kurikulum merdeka atau merdeka belajar ini memberikan kebebasan kepada guru untuk memberikan kegiatan pembelajaran sesuai dengan kondisi sekolah dan karakteristik siswa di sekolah tersebut. Selain itu, kurikulum merdeka juga mengemas pembelajaran untuk memberikan pengalaman belajar siswa melalui berbagai kegiatan P5.

Kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila bertujuan untuk memberikan bekal pengalaman belajar siswa yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari siswa di masa sekarang dan masa depan. Kegiatan P5 tersebut juga bertujuan untuk mewujudkan profil seorang pelajar Pancasila sehingga terbentuk enam dimensi dalam diri seorang pelajar Pancasila tersebut. Keenam dimensi tersebut adalah beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif (Sufyadi et al., 2021).

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah merancang tujuh tema untuk diimplementasikan di sekolah untuk jenjang SMP. Ketujuh tema tersebut antara lain gaya hidup berkelanjutan, kearifan lokal, bhinneka tunggal ika, bangunlah jiwa dan raganya, suara demokrasi, rekayasa dan teknologi, dan kewirausahaan. Ketujuh tema tersebut boleh diterapkan semuanya di sekolah atau dapat juga memilih beberapa tema yang sesuai dengan karakteristik siswa di sekolah. Salah satu tema yang akan dibahas yaitu tema kewirausahaan. Alasan mengapa tema kewirausahaan dipilih karena tema tersebut telah diimplementasikan di SMP Muhammadiyah 10 Yogyakarta. Selain itu, tema kewirausahaan relevan dengan tantangan global yang terjadi saat ini. Tantangan global ini mengharuskan siswa memiliki skill untuk bekal hidup siswa. Siswa diharapkan memiliki jiwa entrepreneur muda sejak dini. Hal tersebut dapat diwujudkan salah satunya melalui kegiatan projek kewirausahaan.

  • ISI

1. Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Tema Kewirausahaan

Pembelajaran projek adalah metode pembelajaran yang menggunakan projek atau kegiatan sebagai media dilakukan dengan menyisipkan konsep inovatif dan kreativitas tinggi (Rahmani et al., 2023). Sebagai sekolah yang menerapkan kurikulum merdeka dengan konsep merdeka belajar, sudah selayaknya juga mengimplementasikan kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Kegiatan tersebut sebagai jalan untuk membentuk dan memperkuat karakter siswa yang didapatkan melalui kegiatan projek. Saat ini, pematangan karakter sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan global yang disertai krisis moral siswa. Krisis moral tersebut karena siswa tidak benar-benar mendapatkan penguatan karakter di sekolah maupun di rumah. Krisis moral juga salah satunya disebabkan oleh perkembangan teknologi yang semakin pesat dan memiliki pengaruh yang kuat terhadap kehidupan bermasyarakat. Masyarakat dimudahkan dalam berbagai hal, mulai dari berkomunikasi jarak jauh secara mudah, mengakses dan mencari informasi lebih cepat, dan sebagainya. Banyaknya tindakan kekerasan, kriminal, dan bullying pada siswa merupakan dampak negatif perkembangan digital yang semakin pesat. Dengan demikian, penguatan karakter siswa sangat penting diterapkan di sekolah agar terbentuk karakter siswa yang unggul dan bermoral yang akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan kewirausahaan terutama ditujukan untuk membekali siswa dengan kemampuan hidup yaitu menjadi mandiri dan mampu menghadapi perubahan yang sering terjadi. Hasilnya, penerapan P5  kewirausahaan memberikan dampak positif yaitu membentuk karakter dan perilaku siswa dalam berwirausaha, serta memungkinkan siswa memiliki pendekatan pembelajaran yang kritis dan individual (Fatah & Zumrotun, 2023). Kehidupan sehari-hari siswa di masa depan sangat relevan dengan apa yang diperoleh di masa kini, terutama dalam penanaman karakter siswa. Kegiatan projek dengan tema kewirausahaan sangat cocok diimplementasikan di masa kini, dimana kehidupan masa kini dari kalangan anak-anak pun sudah mulai berwirausaha kecil-kecilan, mulai dari menjajakan makanan ringan, minuman, hingga barang-barang kekinian. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tema kewirausahaan diterapkan di sekolah untuk menjawab tantangan ekonomi global. Siswa diharapkan mendapatkan bekal menumbuhkan perekonomian keluarga untuk bertahan hidup di masa mendatang. Berwirausaha adalah salah satu cara untuk mengembangkan perekonomian.

Implementasi kegiatan projek tema kewirausahaan ini juga telah diterapkan di SMP Muhammadiyah 10 Yogyakarta. Dalam kegiatan projek tersebut, siswa diberi materi dari seorang wirausahawan muda tentang teknik-teknik berwirausaha mandiri. Selain teknik berwirausaha, materi lainnya yang dibelajarkan seperti cara mendesain label dan cara memasarkan secara offline ataupun online. Dalam kegiatan projek kewirausahaan, siswa tidak hanya mendapatkan materi atau teori tentang berwirausaha saja, akan tetapi, teknik-teknik pendukung kegiatan kewirausahaan yang juga sangat dibutuhkan juga dibelajarkan, terutama yang dapat mengembangkan karakter siswa. Skill atau ketrampilan lain yang harus dimiliki siswa yaitu cara mendesain produk, cara memasarkan produk, cara memulai berwirausaha mandiri, cara menghitung laba, serta praktik memperjualbelikan suatu dagangan.

Produk yang dikemas dengan bagus dan menarik menjadi daya tarik sendiri bagi masyarakat. Siswa pun harus dapat membuat desain kemasan yang menarik agar barang atau makanan yang dijual laku. Selain itu, cara memasarkan pun juga memiliki teknik khusus agar pembeli dapat tertarik untuk membeli. Setelah itu, siswa diajarkan untuk mempraktikkan cara membuat produk jual, menawarkan, dan memperjualbelikannya kepada pembeli melalui kegiatan pameran kewiruasahaan di sekolah. Siswa secara mandiri dan kreatif memanfaatkan modal kecil untuk membuat atau menjual kembali makanan, minuman, atau barang-barang bernilai jual. Makanan, minuman, dan barang-barang tersebut sebelum diperjualbelikan dalam market day diberi label hasil karya sendiri yang didesain menggunakan aplikasi canva sesuai yang telah diajarkan pemateri ketika kegiatan P5. Kegiatan market day siswa dilaksanakan pada hari terakhir kegiatan projek tema kewirausahaan selesai.

Praktik-praktik dan contoh kegiatan kewirausahaan sederhana tersebut memang cocok untuk anak usia SMP yang akan menginjak remaja. Siswa dapat mempraktikkan ilmu yang didapatkan dalam kegiatan projek tema kewirausahaan dalam kehidupan sehari-hari untuk memperjualbelikan makanan, minuman, maupun barang-barang yang bernilai jual. Hasilnya pun dapat menambah uang jajan atau tabungan siswa. Selain itu setelah melaksanakan kegiatan projek tema kewirausahaan, siswa SMP Muhammadiyah 10 Yogyakarta melanjutkan mengimplementasikan hasil kegiatan projek dengan cara menitipkan dagangan di kantin sekolah. Hal-hal seperti itu dapat terus dilaksanakan untuk memperkuat perekonomian dalam menghadapi tantangan global. Siswa yang telah dibekali skill berwirausaha tidak akan takut menghadapi tantangan global bidang perekonomian.

Penumbuhan nilai-nilai kewirausahaan dan minat berwirausaha siswa tidak hanya melalui transfer pengetahuan yang bersifat teoretis, namun pembelajaran yang bersifat learning by doing melalui projek kewirausahaan (Noviani et al., 2022). Melalui kegiatan projek tema kewirausahaan, nilai-nilai dalam Profil Pelajar Pancasila (PPP) yang diharapkan dimiliki siswa yaitu gotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Secara detail, hal tersebut dijabarkan dalam tabel berikut ini.

Tema       : Kewirausahaan      

Topik       : Saatnya Wirausaha Muda Berkarya

Dimensi PPPElemen PPPSub-elemen PPPTarget Pencapaian di Akhir Fase D
Bernalar Kritis  Memperoleh dan memproses informasi dan gagasanMengidentifikasi, mengklarifikasi, dan mengolah informasi dan gagasanMengidentifikasi, mengklarifikasi, dan menganalisis informasi yang relevan serta memprioritaskan beberapa gagasan tertentu.
Menganalisis dan mengevaluasi penalaranElemen menganalisis dan mengevaluasi penalaran dan prosedurnyaMenalar dengan berbagai argumen dalam mengambil suatu simpulan atau keputusan
Gotong RoyongKolaborasiKerjasama            Menyelaraskan tindakan sendiri dengan tindakan orang lain untuk melaksanakan kegiatan dan mencapai tujuan kelompok di lingkungan sekitar, serta memberi semangat kepada orang lain untuk bekerja efektif dan mencapai tujuan bersama.    
Saling ketergantungan positifMendemonstrasikan kegiatan kelompok yang menunjukkan bahwa anggota kelompok dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing perlu dan dapat saling membantu memenuhi kebutuhan.
KreatifMenghasilkan karya dan tindakan yang orisinal Mengeksplorasi dan mengekspresikan pikiran dan/ atau perasaannya dalam bentuk karya dan/atau tindakan, serta mengevaluasinya dan mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.

2. Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Tema Kewirausahaan Relevan dengan Era Society 5.0

Pergerakan dunia global yang cukup dinamis membuat negara saat ini telah masuk dalam era society 5.0. Era society merupakan era dimana teknologi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Hal ini sangat relevan dengan isu tantangan global era society 5.0, dimana dalam era society ini kehidupan manusia sangat erat dengan penggunaan teknologi. Teknologi menjadi bagian dalam kehidupan manusia mulai untuk berkomunikasi, mencari informasi, hingga sebagai pemenuhan kebutuhan perekonomian. Society 5.0 adalah masyarakat dimana berbagai kebutuhan dibedakan dan dipenuhi dengan menyediakan produk dan layanan yang diperlukan dalam jumlah yang memadai kepada orang-orang yang membutuhkannya, dimana semua orang dapat menerima layanan berkualitas tinggi dan kehidupannya yang nyaman serta penuh semangat karena berbagai kemudahan menggunakan teknologi (Badriyah et al., 2021).

Berwirausaha era digital 5.0 menuntut kesadaran akan tren teknologi terbaru dan kemampuan untuk mengadaptasi bisnis sesuai dengan perubahan (Yacub et al., 2023). Memasuki era society 5.0, kegiatan perekonomian dimudahkan dengan cara berjualan atau membeli sesuatu secara online tanpa harus keluar rumah. Hanya dengan duduk manis saja, masyarakat dapat memilih dan melihat-lihat produk yang akan dibeli melalui gadget-nya. Masyarakat tidak perlu jauh-jauh melangkahkan kaki keluar rumah untuk membeli sesuatu. Sama halnya dengan pemesanan makanan. Makanan atau minuman dapat dipesan melalui aplikasi online dan dengan cepat akan datang sendiri. Selain itu, para penjual juga sekarang ini lebih banyak menawarkan produk jualnya melalui gadget. Hal tersebut karena dengan gadget, informasi produk dagangan akan lebih mudah tersampaikan ke masyarakat.

Melihat aktivitas kegiatan jual beli yang semakin canggih saat ini karena pengaruh digitalisasi era society 5.0, edukasi penggunaan teknologi untuk kegiatan jual beli melalui kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila sangat diperlukan. Melalui kegiatan projek tema kewirausahaan, siswa diajarkan lebih mendalam akan penggunaan gadget secara positif, seperti pemanfaatan gadget untuk membuat desain label suatu produk dengan mudah dan memasarkan produk secara online di market place atau melalui media sosial lainnya. Kegiatan tersebut tidak lagi awam bagi siswa. Justru kegiatan tersebut dapat memacu siswa dalam mengembangkan kegiatan perekonomian yang dapat dilakukan secara terjangkau sesuai dengan materi yang telah didapatkan ketika kegiatan P5. Yang juga menjadi sasaran utama melalui P5 ini, diharapkan gotong royong, bernalar kritis, dan kreatif  para siswa dapat dikuatkan. Dengan demikian, manfaat dari pelaksanaan kegiatan P5 tema kewirausahaan dapat benar-benar memberikan bekal siswa di kehidupan mendatang.

3. Tujuan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Tema Kewirausahaan

Tujuan pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) tema kewirausahaan yaitu sebagai berikut (Sufyadi et al., 2021).

  1. Siswa dapat merancang strategi untuk meningkatkan potensi ekonomi lokal dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.
  2. Siswa dapat terlibat dalam kegiatan ekonomi rumah tangga, berkreasi untuk menghasilkan karya bernilai jual, dan kegiatan lainnya yang kemudian diikuti dengan proses analisis dan refleksi hasil kegiatan mereka.
  3. Siswa dapat menumbuhkembangkan kreativitas dan budaya kewirausahaan.
  4. Siswa juga terbuka wawasannya tentang peluang masa depan, peka akan kebutuhan masyarakat, menjadi problem solver yang terampil, serta siap untuk menjadi tenaga kerja profesional penuh integritas.
  • SIMPULAN

Pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) tema kewirausahaan saat ini sangat cocok dilaksanakan untuk siswa sekolah karena relevan dengan kehidupan nyata. Melalui kegiatan P5 tema kewirausahaan, siswa akan mendapatkan pengalaman dan aksi nyata tentang praktik-prakik kewirausahaan yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari saat ini maupun masa depan. Praktik-praktik kewirausahaan yang didapatkan oleh siswa seperti cara mengolah suatu makanan atau minuman, membuat desain produk yang menarik, cara memasarkan suatu produk, dan menghitung pemerolehan laba dari hasil penjualan.

Dengan melakukan praktik-praktik berwirausaha tersebut, diharapkan akan menggugah semangat positif siswa untuk mempraktikkan ilmu yang telah didapatkan walapun P5 tersebut sudah berakhir. Selain itu, diharapkan siswa dapat menjawab tantangan krisis global dengan berwirausaha sesuai dengan teori kewirausahaan yang didapatkan. Tetapi utamanya juga dapat menguatkan profil pelajar pancasila yang menjadi sasaran dalam P5 tersebut. Dengan demikian, tujuan pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) tema kewirausahaan untuk menumbuhkan kreativitas berwirausaha dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Badriyah, L., Masfufah, Rodiyah, K., Chasanah, A., & Abdillah, M. A. (2021). Implementasi pembelajaran p5 dalam membentuk karakter bangsa di era society 5.0. Journal of Psychology and Child Development, 1(2), 67–83. https://doi.org/10.37680/absorbent_mind.v1i02.3638

Fatah, M. A., & Zumrotun, E. (2023). Implementasi proyek p5 tema kewirausahaan terhadap kemandirian belajar di sekolah dasar. Attadrib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 6(2), 365–377.

Noviani, L., Wahida, A., & Umiatsih, S. T. (2022). Strategi implementasi proyek kewirausahaan di sma negeri 1 sumberlawang. Jurnal Kewirausahaan Dan Bisnis, 27(1), 60–70. https://doi.org/10.20961/jkb.v27i1.58934

Rahmani, R. A., Huda, C., Patonah, S., & Paryuni, P. (2023). Analisis proyek penguatan profil pelajar pancasila pada tema kewirausahaan. Js (Jurnal Sekolah), 7(3), 429–437. https://doi.org/10.24114/js.v7i3.45272

Sufyadi, S., Harjatanaya, T. Y., Adiprima, P., Satria, M. R., Andiarti, A., & Herutami, I. (2021). Panduan pengembangan proyek penguatan profil pelajar pancasila (T. Hartini (ed.); I). Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Yacub, R., Sophan, I., Herlina, H., Mulyeni, S., & Susilawati, E. (2023). Menumbuhkan minat berwirausaha di era revolusi industri 4.0 dan digital society 5.0 pada siswa/i smk multimedia binkara cianjur jawa barat. Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM), 1(1), 1–10.

Menghidupkan Komunitas Belajar Sekolah

Oleh: Lina Puspitaning Rahayu, S.Pd.

Guru SD N Gembongan, Kulon Progo

Pendidik merupakan salah satu faktor penting dalam kemajuan pendidikan. Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dijelaskan bahwa pendidik merupakan pendidik profesional yang memiliki tugas utama berupa mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi peserta didik baik pada pendidikan usia dini, pendidikan dasar, maupun pendidikan menengah. Menurut Undang-Undang tersebut, fungsi pendidik sangatlah vital bagi dunia pendidikan Indonesia. Oleh karena itu, seorang pendidik harus memiliki sejumlah kompetensi untuk menjalankan tugas utamanya sebagai seorang pendidik yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik, dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut harus dimiliki oleh seorang pendidik agar dapat mendidik peserta didiknya dengan baik.

Keberhasilan peserta didik tidak lepas dari peran dan tanggung jawab pendidik di sekolah. Kualitas pendidik berbanding lurus dengan kualitas peserta didik dan kualitas satuan pendidikan. Apabila Indonesia memiliki pendidik-pendidik yang berkualitas, akan tercipta peserta didik dan pendidikan nasional yang berkualitas. Namun realitanya, masih terdapat pendidik-pendidik yang kompetensinya kurang memadai.

Hasil riset Center Education Regulation and Development Analysis (CERDAS) pada tahun 2019 menunjukkan bahwa minat baca pendidik Indonesia masih tergolong rendah. Lebih lanjut, survei Bank Dunia pada tahun 2020 menunjukkan bahwa kualitas pendidik di Indonesia berada pada kategori rendah. Tidak jarang dijumpai di dalam satu satuan pendidikan, terjadi kesenjangan kompetensi antarpendidik, khususnya dalam kompetensi profesional. Ada pendidik yang memiliki kompetensi profesional sangat baik dan ada yang masih kurang. Contoh sederhananya, terjadi kesenjangan dalam hal penguasaan teknologi meski diketahui bahwa teknologi memiliki peran sangat penting untuk pembelajaran abad ke-21. Kesenjangan tersebut akan berdampak pada kualitas satuan pendidikan dan pengalaman belajar yang diterima oleh setiap peserta didik.

Kondisi di lapangan juga menunjukkan adanya kendala yang dialami oleh sejumlah pendidik untuk meningkatkan kompetensi profesional, belajar bersama, dan memecahkan permasalahan pembelajaran. Sejumlah permasalahan pembelajaran di kelas dialami oleh pendidik, misalnya rendahnya kemampuan literasi dan numerasi peserta didik. Tidak hanya itu, permasalahan lain seperti tiga dosa pendidikan (kekerasan seksual, intoleransi, dan perundungan) juga harus menjadi perhatian setiap pendidik. Permasalahan-permasalahan tersebut tentunya membutuhkan solusi dari setiap pendidik di satuan pendidikan.

Komunitas Belajar

Salah satu cara untuk mengembangkan kemampuan dan kompetensi pendidik serta permasalahan pembelajaran adalah melalui komunitas belajar. Menurut Surat Edaran Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Nomor 4263 Tahun 2003 tentang Optimalisasi Komunitas Belajar dijelaskan bahwa komunitas belajar merupakan wadah bagi pendidik dan tenaga kependidikan untuk belajar bersama dan berkolaborasi secara rutin, dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga berdampak pada hasil belajar peserta didik. Komunitas belajar merupakan salah satu bentuk realisasi untuk membangun kolaborasi dengan sesama rekan pendidik.

Komunitas belajar dapat dilakukan di tingkat satuan pendidikan, atau disebut komunitas belajar intrasekolah. Pendidik dalam satu satuan pendidikan berkumpul untuk membahas beragam hal yang terkait dengan pembelajaran dan peserta didik. Pertemuan pendidik ini dilakukan secara rutin misalnya satu minggu sekali dengan agenda yang terjadwal dan terstruktur. Selain itu, pertemuan juga dapat dilakukan secara informal antarpendidik di lingkungan sekolah. Sekolah dapat menggunakan rapor pendidikan sebagai bahan untuk menentukan topik pertemuan komunitas belajar. Pendidik dalam satu sekolah dapat menentukan satu akar permasalahan yang direkomendasikan oleh rapor pendidikan. Akar masalah tersebut kemudian dibahas dan dicarikan solusi yang tepat sesuai dengan dukungan dan sumber daya yang dimiliki sekolah.

Dukungan Berbagai Pihak

Berdasarkan SE Dirjen GTK Nomor 4263 Tahun 2023 tentang Optimalisasi Komunitas Belajar juga dijelaskan bahwa peran pendidik, kepala sekolah, dan pengawas sekolah sangat penting terhadap transformasi pembelajaran paradigma baru. Keberhasilan komunitas belajar tidak lepas dari peran ketiga komponen tersebut. Komunitas belajar akan berhasil dan membawa dampak bagi kemajuan pendidikan apabila ketiga komponen tersebut melakukan perannya dengan penuh tanggung jawab.

Dalam komunitas belajar, pendidik tentunya harus memiliki semangat dan kepedulian untuk menggerakkan komunitas belajar. Kedisiplinan pendidik dalam belajar, berbagi dan berkolaborasi di komunitas belajar akan menjadi kunci kelangsungan komunitas belajar. Roh dari komunitas belajar adalah pendidik yang hausilmu sehingga tercipta iklim belajar yang positif untuk kemajuan pendidikan. Beberapa peran pendidik dalam komunitas belajar antara lain menetapkan waktu belajar bersama, berkolaborasi menyelesaikan masalah, berbagi praktik baik yang telah dilaksanakan, dan merefleksikan tindakan-tindakan yang telah dilakukan.

Keberhasilan komunitas belajar intrasekolah tidak lepas dari dukungan dan tanggung jawab dari kepala sekolah. Kepala sekolah bertugas untuk memberi dukungan dan motivasi kepada semua pendidik di satuan pendidikannya untuk dapat konsisten mengikuti komunitas belajar intrasekolah. Kepala sekolah memiliki peran untuk menggerakkan setiap pendidik di sekolahnya agar saling bergerak meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan. Tanpa dukungan kepala sekolah, komunitas belajar hanyalah sebuah nama, tanpa memiliki misi yang jelas. Kepala sekolah harus menjadi teladan bagi semua pendidik untuk menggerakkan komunitas belajar sehingga membawa dampak bagi kemajuan pendidikan di satuan pendidikan.

Peran pengawas sekolah juga tidak kalah penting dalam terselenggaranya komunitas belajar. Pengawas sekolah berperan untuk melakukan pendampingan kepada seluruh sekolah binaan dan untuk memberikan arahan kepada kepala sekolah dan pendidik tentang pembentukan komunitas belajar intrasekolah. Selain itu, pengawas juga memiliki peran dalam melakukan monitoring dan evaluasi terkait aktivitas komunitas belajar di setiap sekolah binaan. Tujuannya agar para pengawas mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi di komunitas belajar untuk kemudian dicarikan solusi yang tepat.

Manfaat Komunitas Belajar

Kolaborasi melalui komunitas belajar memiliki dampak yang luar biasa apabila dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Komunitas belajar membawa manfaat bagi pendidik, peserta didik, dan sekolah. Bagi pendidik, komunitas belajar dapat menepis kesenjangan kompetensi antarpendidik. Pendidik saling belajar dan mengisi satu sama lain sehingga semua pendidik di satuan pendidikan memiliki kompetensi yang setara. Dengan adanya kesetaraan kompetensi antarpendidik, peserta didik akan memperoleh pengalaman belajar dengan kualitas yang sama, siapapun pendidiknya. Ekosistem dan budaya belajar melalui komunitas belajar pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan kualitas dan mutu satuan pendidikan.

Komunitas Praktisi SD Negeri Gembongan

Kepala sekolah, pendidik, dan tenaga kependidikan SD Negeri Gembongan, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi DIY, merupakan orang-orang yang haus ilmu. Sekolah ini rutin melaksanakan pertemuan komunitas belajar setiap satu bulan sekali selama kurang lebih satu tahun. Setiap bulan, komunitas belajar SD Negeri Gembongan membahas beragam hal terkait dengan capaian rapor pendidikan. Seperti misalnya di bulan September 2023, komunitas belajar SD Negeri Gembongan membahas tentang iklim keamanan sekolah yaitu perundungan. Topik ini diambil karena berdasarkan hasil rapor pendidikan, tingkat perundungan di SD Negeri Gembongan masih tinggi. Melalui komunitas belajar, para pendidik di sekolah ini membahas beragam upaya untuk mengurangi perundungan dan berencana untuk menggandeng beberapa pihak, seperti orang tua peserta didik dan tokoh-tokoh agama setempat.

Selain komunitas belajar intrasekolah, SD Negeri Gembongan juga memiliki komunitas belajar daring yang telah terdaftar di Platform Merdeka Mengajar (PMM)dengan nama “Komunitas Praktisi SD Negeri Gembongan”. Komunitas ini memiliki 29 pengikut. Penulis merupakan salah satu penggerak Komunitas Praktisi SD Negeri Gembongan pada PMM. Komunitas Praktisi SD Negeri Gembongan telah mengadakan webinar di PMM dengan topik “Menghijaukan Rapor Pendidikan dengan Penguatan Literasi di Kelas Awal”. Narasumber dalam webinar tersebut yaitu Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo dan dua pendidik SD Negeri Gembongan. Kegiatan webinar tersebut dihadiri kurang lebih 80 peserta. Antusiasme peserta sangat tinggi yang ditunjukkan dengan banyaknya peserta yang mengajukan pertanyaan dan menyambut baik webinar ini.

Salah satu kendala yang dialami oleh komunitas praktisi ini adalah waktu pelaksanaan. Sebelumnya, pertemuan komunitas belajar ini direncanakan setiap Jumat minggu kedua setiap bulan. Namun, rencana tersebut tidak selalu dapat dijalankan karena berbenturan dengan kegiatan lain. Oleh karena itu, pelaksanaannya terkadang mundur dari jadwal yang telah ditetapkan. Meski demikian, kegiatan komunitas belajar ini selalu rutin dilaksanakan setiap bulan.

Kegiatan komunitas belajar membawa dampak positif bagi SD Negeri Gembongan. Pendidik-pendidik bisa belajar banyak hal, termasuk mencoba merefleksikan setiap pembelajaran yang dilaksanakan. Dari kegiatan refleksi ini, pendidik-pendidik menerima masukan dari sesama rekan pendidik untuk perbaikan pembelajaran. Melalui kegiatan komunitas belajar, pendidik-pendidik juga belajar beragam ilmu dalam menyikapi pembelajaran paradigma baru. Tulisan ini disusun untuk menggambarkan betapa pentingnya komunitas belajar dalam pengembangan dan peningkatan kualitas pendidik dan satuan pendidikan. Keberhasilan komunitas belajar tidak lepas dari tanggung jawab dan konsistensi pendidik, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Kemajuan satuan pendidikan tidak lepas dari dukungan para pendidik yang terus belajar sepanjang hayat.

Mewaspadai Sisi Lain dari Kurikulum Merdeka

Oleh: Jefrianus Kolimo, S.Pd., Gr

SMP Negeri 2 Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua, NTT

Rasanya tidak salah jika tahun 2023, saya sebut sebagai salah satu tahun bersejarah dalam sistem pendidikan nasional kita. Hal ini karena kita mengalami transisi kurikulum pendidikan dari kurikulum 2013 beralih ke kurikulum merdeka. Perubahan ini dilakukan secara bertahap.

 Sejak tanggal 6 Februari 2023 sampai dengan 14 April 2023, satuan pendidikan yang ada di bawah naungan Kemendikbudristek dapat mendaftarkan diri untuk mulai mengimplementasikan kurikulum merdeka berdasarkan kesiapan masing-masing. Ada 3 pilihan kurikulum merdeka yang dapat menjadi pilihan setiap sekolah yaitu mandiri belajar, mandiri berubah, serta mandiri berbagi. Dengan berpatokan pada kondisi ataupun keadaan di masing-masing satuan pendidikan, semua sekolah dapat bebas memilih salah satu dari 3 pilhan kurikulum tersebut. Pilihan itu yang selanjutnya dipakai sebagai pedoman atau pegangan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran baik itu intra, ekstra, maupun ko-kurikuler. Secara teknis khususnya terkait tata cara penerapan kurikulum merdeka, sejauh ini memang tidak ditemukan adanya hambatan berarti. Hal ini karena sudah banyak refrensi yang tersedia salah satunya melalui aplikasi Platform Merdeka Mengajar.

Batasan Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 dinarasikan sudah tidak lagi relevan dipakai sebagai landasan sekaligus instrumen untuk melangsungkan pembelajaran di dalam kelas. Survei yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 3.391 siswa SD yang tersebar di 7 Kabupaten dan 4 Provinsi yang dilakukan sebelum dan setelah pandemi pada Januari 2020 dan April 2021 menunjukkan kepada kita akan batasan penerapan kurikulum 2013. Hasil survei menunjukkan bahwa sekolah yang menggunakan kurikulum 2013 mengalami keterlambatan waktu belajar saat pandemi Covid-19. Setelah pandemi untuk aspek literasi, siswa mengalami keterlambatan setara dengan 6 bulan waktu belajar. Waktu tersebut setara dengan 1 semester dalam hitungan kalender akademik di sekolah. Sementara untuk aspek numerasi, keterlambatannya sebesar 5 bulan waktu belajar. Diprediksi juga bahwa siswa yang berada di daerah 3T (terpencil, terluar, dan tertinggal), keterlambatannya bahkan bisa setara dengan 8-10 bulan waktu belajar (Kompas, 17/02/22, hal A). Merujuk survei tersebut, jika dipetakan maka untuk jenjang sekolah menengah pertama (SMP), seorang siswa harus dengan terpaksa melewatkan paling sedikit 2-3 Kompetensi Dasar (KD) yang diprogramkan. Memang tidak banyak. Tetapi sialnya adalah terdapat beberapa mata pelajaran seperti MIPA (Matematika dan IPA) yang sifat dan karakteristiknya sangat sistematis dan terstruktur. Artinya bahwa 1 KD bertautan erat dengan KD yang lain. Sehingga melewatkan 1 KD sama halnya juga dengan mengabaikan beberapa KD lainnya. Karena itu, masalah keterlambatan belajar (learning loss) dalam arti yang lebih dalam adalah terabaikannya pemenuhan sederet kompetensi kognitif siswa.

Dari persoalan tersebut, pembelajaran yang hanya berfokus pada materi-materi esensial menjadi hal baru yang ditawarkan oleh kurikulum merdeka. Teorinya adalah dengan hanya berfokus pada materi esensial, beban pembelajaran yang dipikul siswa akan sedikit berkurang. Dengan begitu, diharapkan rentang keterlambatan belajar selama masa pandemi bisa dipangkas. Kebijakan serupa sudah dilakukan oleh Pemerintahan China baru-baru ini. Pemerintahan China melalui Kantor Umum Komite Central dan Partai Komunis China pada Tahun 2022 lalu melakukan perombakan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar siswa di sekolah dan luar sekolah. Dengan merombak kurikulum melalui kebijakan pengurangan beban belajar siswa, didapati bahwa kondisi para siswa yang meliputi kepribadian, kreativitas, dan tanggung jawab menjadi lebih baik. Salah satu hasil kemajuannya adalah terlihat dari kondisi siswa dan nilai ujian sekolah yang naik hampir 10 persen. Selain itu dengan adanya kebijakan tersebut, rata-rata jumlah buku yang dipinjam dari perpustakaan sekolah meningkat dari 1 atau 2 buku menjadi 5 buku (Kompas, 13/04/2022, hal D). Juga dengan adanya pembelajaran berdiferensiasi yang diamanatkan dalam Kurikulum Merdeka, siswa dapat belajar berdasarkan profil, gaya, maupun kecepatan belajarnya sehingga harapannya dapat memfasilitasi siswa untuk menguasai kompetensi yang perlu dipelajarinya dengan lebih baik lagi.

Para pembuat kebijakan pendidikan kita sudah tentu mengharapkan hasil yang serupa. Karena itu, saat ini, para kepala sekolah di seluruh Indonesia didorong untuk menjadi bagian dari inovator kurikulum baru ini. Memang sifatnya pilihan, bukan paksaan. Akan tetapi, tidak sedikit sekolah yang bereuforia bahkan sangat antusias terhadap perubahan dan inovasi ini. Tidak dipungkiri bahwa narasi-narasi positif terkait keunggulan kurikulum merdeka yang sudah beberapa tahun ini selalu dikampanyekan turut menjadi daya tarik dan pelecut semangat sekolah untuk terlibat mendaftar. Kita berharap bukan hanya sekedar bereforia dalam urusan daftar-mendaftar. Harapannya adalah harus lebih dari itu. Implementasinya pun harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Maka dari itu, keberhasilan penerapannya tidak terlepas juga dari apa yang dilakukan guru di dalam kelas. Karenanya, peningkatan kualitas guru agar semakin layak untuk mengajar semakin terus digiatkan lewat berbagai program pemerintah. Namun tak dapat dipungkiri juga bahwa semarak peralihan kurikulum terdengar sangat riuh hanya di ruang lingkup komunitas guru. Seolah-seolah, berhasil atau tidaknya penerapan kurikulum baru semata-mata menjadi tanggung jawab guru seorang. Euforia peralihan kurikulum terlihat tidak seriuh euforia ataupun antusias orang tua saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Padahal keduanya sama-sama punya dampak langsung dan signifikan terhadap kegiatan belajar siswa. Karena itu ada guru yang bahkan berpandangan bahwa banyak orang tua yang saat ini hanya menginginkan anak untuk bersekolah saja. Bersekolah dalam pengertian mereka adalah sebatas hanya pergi ke sekolah. Selanjutnya, aktivitas yang dilakukan anak bukan lagi menjadi tanggung jawab mereka. Tidak salah memang pendapat guru tersebut. Sebab terkadang dalam banyak pemberitaan saat ini, ada orang tua yang sangat kaget ataupun tidak menduga jika anaknya sampai-sampai berlaku menyimpang dari yang mereka pikir baik selama ini.

 Sudah banyak teori yang melandaskan bahwa mau bagaimana pun bentuk dan struktur kurikulum pendidikan nanti, orang tua, siswa, dan guru selalu menjadi faktor kuncinya. Karena itu, kunci keberhasilan kurikulum sangat keliru jika hanya menjadi tanggung jawab guru semata. Sebagai pembanding, di China, pembatasan penggunaan gawai pada anak-anak setidaknya juga turut menjadi faktor pendukung keberhasilan penerapan kurikulum baru. Membatasi penggunaan dan peredaran game daring bahkan sudah diterapkan terlebih dahulu sebelum kurikulum baru digunakan. Pembatasan ini mengatur antara lain soal jumlah game video yang bisa dimainkan secara daring, membatasi jumlah game video baru, menentukan pembatasan usia untuk game, serta mengurangi jumlah waktu bermain game untuk anak-anak. Implementasinya pun dilakukan secara serius. Untuk bermain game, seseorang sudah harus menggunakan sistem verifikasi identitas, salah satunya dengan pemeriksaan raut wajah agar tidak ada anak-anak yang bermain game video pada waktu-waktu tertentu (Kompas, 4/9/2021, hal 4). Meskipun belum secara menyeluruh dan ketat seperti di China, tetapi beberapa negara seperti Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan pun sudah mulai menerapkan pembatasan serupa.

Bukan Hanya Guru

Merujuk dari pengalaman tersebut, sekali lagi saya simpulkan bahwa keberhasilan penerapan kurikulum baru sebenarnya tidak hanya semata-mata berada di pundak seorang guru. Faktor lain seperti aktivitas siswa khususnya yang berada di luar kendali dan pengawasan guru juga menjadi faktor lain yang perlu diwaspadai. Di luar kendali guru sama artinya dengan dalam kendali orang tua atau lingkungan sekitar. Situasi seperti ini perlu juga diwaspadai. Saat diluar kendali guru dan orang tua, banyak siswa yang bukannya memanfaatkan waktu untuk belajar tetapi sebaliknya malah dipakai untuk aktivitas yang tidak seharusnya seperti bermain game dan lain sebagainya. Fakta yang penulis dapati ini tidak mengagetkan sebab mengingat data dari Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis pada Tahun 2020 silam, terdapat 67,1 juta pengguna internet aktif usia 13-17 Tahun di Indonesia. Ditambah lagi, hingga saat ini pun sudah semakin banyak diberitakan anak-anak yang masih berusia remaja menjadi pelaku kriminal. Dugaan sementara bahwa anak-anak tersebut terpengaruh akan paparan media sosial khususnya saat menonton konten-konten bermuatan kekerasan hingga merangsang mereka untuk saling unjuk kebolehan. Tentu kita berharap bahwa dengan menerapkan merdeka belajar, seharusnya rentang ketertinggalan belajar anak dapat dipangkas, apalagi dalam kurkulum merdeka juga menguatkan profil pelajar Pancasila agar siswa memiliki karakter yang baik. Maka dari itu, peran serta orang tua saat implementasi kurikulum yang saat ini sedang giat-giatnya dilakukan khususnya dalam menjaga, mengawasi, dan mengontrol aktivitas anak, melalui tulisan ini penting untuk kembali diingatkan. Semoga.

Optimalisasi Peran Perpustakaan dalam Menumbuhkan Literasi

Oleh: Jefrianus Kolimo, S.Pd., Gr

SMP Negeri 2 Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua, NTT

Perpustakaan memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi masyarakat.  Dari tahun ke tahun, saat ini jumlah perpustakaan di Indonesia sudah mencapai angka 164.610 unit. Jumlah tersebut hanya kalah dari India. Jumlah Perpustakaan di India tercatat sebanyak 323.605 unit (Media Indonesia.com, 14/03/2019). Karena itu Indonesia berada pada urutan kedua negara dengan jumlah perpustakaan terbanyak di dunia setelah India. Namun demikian, kondisi ini dapat dikatakan sebuah anomali. Hal ini disebabkan perpustakaan belum mampu meningkatkan literasi masyarakat. Padahal, jika membicarakan masalah literasi maka buku adalah kunci utama dalam meningkatkan literasi. Perpustakaan merupakan tempat untuk mengakses buku yang menjadi sumber ilmu pengetahuan.

Data berbagai riset menjelaskan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia khususnya terkait minat baca memang belum baik. Misalnya, hasil riset yang dikeluarkan oleh ‘’World Most Literate National Ranked’’ pada Tahun 2016 tentang minat baca. Indonesia berada pada peringkat ke 60 dari 61 negara yang di Survey. Selanjutnya Tahun 2018, berdasarkan riset yang dilakukan Central Connecticut State University AS yang kemudian dibagikan oleh UNESCO menunjukan bahwa kegemaran masyarakat Indonesia akan bahan bacaan pun tak banyak mengalami perubahan. Minat baca rakyat Indonesia hanya 0,0001 persen (Harian Kompas, 06/05/2022). Jika dinarasikan, dari 1000 warga negara Indonesia yang ditemukan, hanya 1 yang gemar membaca buku.

Perpustakaan Berkualitas

Dengan tidak mengabaikan fakta bahwa rendahnya minat baca masyarakat, hal lain yang perlu kita kaji lebih lanjut adalah bagaimana pelayanan perpustakaan kita. Apakah perpustakaan kita memang hanya unggul secara kuantitas dan belum optimal dalam hal kualitas? Apakah  benar, perpustakaan  tidak punya peranan dalam mendukung masyarakat kita untuk berliterasi? Bagaimana gambaran seharusnya perpustakaan yang berkualitas itu sendiri?

Penulis adalah salah satu penggiat dan pengikut instagram perpustakaan nasional (@perpusnas.go.id). Meskipun  berada di daerah yang jauh dari kawasan  perpustakaan nasional, tetapi dari informasi-informasi yang disajikan menjadikan masyarakat dapat mengakses berbagai ragam koleksi buku terbaru. Selain itu juga perpustakaan mampu menjadi tempat penyelenggaran even kegiatan menarik dan bermanfaat bagi masyarakat, seperti: menonton film, bedah buku, seminar, penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan serta beberapa jenis perlombaan bagi masyarakat. Selain itu, melalui akun tersebut, saya pun dapat mengetahui informasi terkait telah tersedia atau terbit buku-buku terbaru. Selain itu juga, penulis dapat mengakses informasi terkait buku-buku lama yang masih bermanfaat bagi kehidupan. Penulis merasa senang dan mengapresiasi dengan informasi-informasi yang telah disajikan dan kedepan diharapkan dapat berpartisipasi aktif mengambil bagian dalam memajukan perpustakaan agar bermanfaat bagi penggunanya.

Merujuk dari pengalaman tersebut, tidak dapat  disangkal bahwa apa yang ditampilkan atau yang ada di dalam gedung perpustakaan nasional menunjukkan bahwa fungsi perpustakaan  tidak lagi hanya sebagai  tempat untuk menyimpan buku. Perpustakaan nasional juga dapat digunakan sebagai tempat untuk menyelenggarakan kegiatan lain yang menarik dan bermanfaat. Tujuannya pun tidak semata-mata untuk meningkatkan minat masyarakat untuk berkunjung sehingga bisa dekat dengan buku.  Situasi ini menunjukkan perpustakaan tidak hanya selalu identik dengan kegiatan membaca tetapi perpustakaan yang secara kualitas tidak perlu lagi untuk diperdebatkan. Sebab fungsi perpustakaan tidak lagi hanya sebatas sebagai gedung penyimpanan ilmu pengetahuan dan kekayaan intelektual. Perpustakaan juga harus menjadi sarana yang mampu menarik minat masyarakat agar semakin dekat dengan aktivitas membaca buku.

Perpustakaan Daerah

Perpustakaan nasional adalah perpustakaan yang menjadi simbol dari infrastruktur literasi sebuah negara. Semakin maju sebuah perpusatakaan nasional maka akan menunjukkan semakin baik di mata negara lain. Dukungan anggaran, fasilitas, dan sumber daya manusia yang memadai merupakan modal penting dalam menunjang pengembangan literasi masyarakat.

Pengembangan perpustakaan di daerah pun seharusnya dapat mencontoh pengembangan dari perpustakaan nasional kita. Terkadang kita masih menjumpai, bahwa masih ada perpustakaan di daerah  yang bahkan belum  memiliki akun media sosial. Padahal media sosial sangat efektif jika dipakai sebagai media untuk mempromosikan apa saja yang ada di dalam perpustakaan sekaligus mengajak masyarakat untuk berkunjung. Karena itu tidak mengherankan jika gedung perpustakaan di daerah-daerah banyak yang sepi akan pengunjung. Hasil survey Litbang Kompas 2022 yang dilakukan pada tanggal 9-11 Agustus 2022 dengan melibatkan 504 responden dari 34 Provinsi dengan sampel acak menunjukkan bahwa tercatat sebanyak 39,5 persen responden yang mengaku tidak pernah berkunjung  dan 52,2 persen sangat jarang ke perpustakaan daerah. 43 persen responden menjawab perpustakaan di daerah tempat tinggalnya lebih sering sepi. Lebih memprihatinkan lagi sebanyak 31,5 persen responden bahkan tidak mengetahui keberadaan perpustakaan yang ada di daerahnya (Harian Kompas, 21/08/2022).  

Hasil survey tersebut tidak mengagetkan banyak pihak sebab saat ini banyak perpustakaan di daerah belum optimal dalam memberikan pelayanan literasi bagi masyarakat. Sebagian masyarakat hanya mengetahui perpustakaan hanya sebagai  peminjaman dan tempat penyimpanan buku-buku saja. Sehingga tidak heran jika  masih ada sebagian perpustakaan di daerah yang terlihat sepi dan belum optimal dalam memberikan pelayanan bagi para pengunjungnya.

Beberapa persoalan di atas dan hadinya perkembangan teknologi seperti kehadiran perpustakaan digital secara tidak langsung juga turut mempengaruhi peran perpustakaan yang ada di daerah dalam memberikan pelayanan bagi masyarakat.  I-pusnas danE-perpusdikbud adalah contoh perpustakaan digital yang jauh lebih praktis dibandingkan jika seseorang harus berkunjung ke perpustakaan daerah. Mencari, meminjam ataupun membaca buku dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Hanya dengan menginstal beberapa aplikasi tersebut di perangkat gawai maka selanjutnya ragam jenis buku sudah dapat dengan mudah diakses dimana saja dan kapan saja. Meskipun demikian tidak diragukan lagi, bahwa peran perpustakaan daerah masih sangatlah penting. Dari aspek efektivitas, jika dibandingkan dengan medium layar, membaca dengan medium kertas masih lebih efektif dalam membangun pemahaman seseorang terhadap sebuah bacaan. Riset yang dilakukan oleh Virginia Clinton yang adalah seorang asisten profesor dibidang psikologi pendidikan dari Universitas of North Dakota, AS, menunjukan perbedaan yang dimaksud. Riset yang dituangkan dalam jurnal yang berjudul reading for paper compared to screen: a systematic  review and metaanalysis (2019) menjelaskan bahwa membaca pada kertas lebih efektif dibandingkan dengan membaca pada layar (Harian Kompas, 21/09/2021). Keunggulan kertas terletak pada format media yang memiliki tata letak . Dimensi tata letak seperti posisi teks di lembar kanan atau kiri buku merupakan hal yang mudah untuk dicerna oleh otak. Selain itu, keunggulan membaca pada medium kertas lainnya adalah kecenderungan untuk selalu tetap konsisten pada bahan bacaan. Sedangkan ketika membaca dengan medium layar, sebaliknya seseorang lebih cenderung tergoda untuk melakukan aktivitas lain yang ada pada gawai tersebut. Karena itu, keberadaan Perpustakaan di daerah sebagai salah satu tempat mengakses sekaligus untuk membaca buku masih sangat penting keberadaannya.

Sebagai Ujung Tombak Literasi di Daerah

Meski begitu, mengingat nasib banyak perpustakaan daerah kita yang tidak sebaik perpustakaan nasional baik dalam aspek infrastruktur maupun sumber daya manusia maka tidak mengherankan jika pencapaian literasi kita khususnya terkait minat baca buku masih tetap akan begitu-begitu saja.  Apalagi merujuk pada data Indeks Aktivitas Literasi Membaca 2019 yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bahwa terdapat 15 daerah dari total 34 provinsi di Indonesia termasuk dalam kategori sangat rendah dalam mengakses bahan bacaan (Puslitjakdikbud, 2019). Aspek akses terhadap bahan bacaan sendiri merupakan aspek penyumbang terbesar rendahnya indeks aktivitas literasi membaca. Akses terhadap bahan bacaan capaiannya hanya sebesar 23,09 persen. Karena itu data tersebut menyiratkan bahwa perpustakaan daerah menjadi salah satu ujung tombak peningkatan capaian literasi di daerah.

Selain perpustakaan, keberadaan jaringan toko buku pun sebenarnya dapat menjadi alternatif lain masyarakat dalam mengakses buku. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan jaringan toko buku tersebar tidak merata atau sebagian besar hanya berada di pusat kota. Maka dari itu, perpustakaan di daerah masih sangat penting keberadaannya. Sebabnya peningkatan kualitas perpustakaan di daerah harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan pada aspek penyediaan infrastruktur, penyediaan sumber daya manusia, dan aspek-lain penunjang lainnya yang terkait sehingga upaya peningkatan minat baca masyarakat dapat segera terwujud.

Implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan Tema Gaya Hidup Berkelanjutan

Oleh: Mita Septiana

SMP Muhammadiyah 10 Kota Yogyakarta, DIY

A. PENDAHULUAN

    Implementasi kurikulum merdeka telah berjalan kurang lebih tiga tahun di Indonesia dan memberikan warna yang lebih eksploratif pada sistem pendidikan nasional kita. Pelaksanaan kurikulum merdeka terbagi tiga waktu pelaksanaan yaitu intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Pada kegiatan pembelajaran intrakurikuler memliki ragam dan konten agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Hal ini disebabkan ada keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar dimiliki oleh guru sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik (Kemendikbudristek, 2022). Untuk mengoptimalkan konsep dan keilmuan oleh peserta didik maka perlu penguatan atau disebut dengan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

    Pelaksanaan P5 berbasis pada proyek (project-based learning). Pembeda pembelajaran berbasis proyek dalam program intrakurikuler di dalam kelas. P5 memberi kesempatan kepada peserta didik untuk belajar dalam situasi tidak formal, struktur belajar yang fleksibel, kegiatan belajar yang lebih interaktif, dan juga terlibat langsung dengan lingkungan sekitar untuk menguatkan berbagai kompetensi dalam profil pelajar Pancasila. Dengan harapan adanya P5 ini satuan pendidikan dapat menyiapkan peserta didik lebih peduli pada mengatasi persoalan sendiri dan adaptif terhadap perubahan lingkungannya. 

    Ada delapan tema dalam P5, tetapi dalam artikel ini tema yang diangkat adalah gaya hidup berkelanjutan. Hal yang menjadi pertimbangan dalam mengangkat tema di atas adalah persoalan yang mendasar di sekitar sekolah dan lingkungan masyarakat yaitu tentang pengelolaan sampah. Nampak sampah dianggap hal yang sepele, tetapi jika tidak ditangani secara serius akan membawa bencana dan keberlangsungan kehidupun ekosistem lingkangan kita, seperti pencemaran air, tanah, dan udara. Salah satu fakor penyebabnya adalah membuang sampah sembarang tempat. Mengatasi masasalah lingkungan tidak hanya mengatasi satu persoalan, tetapi multi dimensi seperti membangun pemberdayaan dan kesadaran masyarakat, ekonomi, efiseinsi, dan akan meneruskan hidup keberlanjutan. Oleh karena itu, penanaman kesadaran ini harus dimulai di lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan kerja.  Hal itu berhubungan dengan aktivitas manusia terhadap kelangsungan kehidupan, khususnya di lingkungan sekitar.  Oleh sebab itu, paling tidak, di level sekolah segera membangun budaya tata kelola sekolah yang bermatabat dengan melibatkan semua komunitas sekolah. Dampak baik pengelolaan sampah dengan P5 akan membawa dampak pada pengurangan resiko kerusakan lingkungan, menambah keindahan lingkungan sekolah, siswa diajak kritis mampu mengelola secara inovatif yang dapat memberikan dampak ekonomi untuk para siswa.

    Di SMP Muhammadiyah di Kota Yogyakarta, yaitu SMP Muhammadiyah 10 Yogyakarta telah mengambil gaya hidup berkelanjutan. Hal tersebut penting untuk diteliti karena di zaman sekarang siswa berhadapan dengan problematika limbah sampah dan ditantang untuk bisa ikut andil dalam pengolahan sampah yang bernilai guna. Melalui proyek tersebut, siswa diharapkan akan mengembangkan secara spesifik tiga  dimensi profil pelajar Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis, serta bergotong-royong.

    P5 tema gaya hidup berkelanjutan ini penting karena siswa adalah generasi penerus bangsa dimasa depan. Masa depan siswalah sebagai agen perubahan yang bisa menjaga lingkungan dan menjadi bagian dari pelaksanaan SDG’s (sustainable development goals) yang menjadi acuan pembangunan di Indonesia, termasuk dalam bidang pendidikan (Makrifah et al., 2023). Hasil penelitian Rachmawati  (2022) menunjukkan bahwa P5 menjadikan nuansa baru dalam pendidikan di Indonesia saat ini, yang mana dengan adanya alokasi waktu terpisah membuat guru lebih bisa berinovasi merencanakan proyek sesuai pemilihan dimensi dan karakteristik peserta didik. Selain itu, juga memberikan keleluasaan bagi pendidik untuk menjalankan proses pembelajaran yang berorientasi pada proyek. Namun, tidak dipungkiri adanya perubahan kurikulum baru ini diperlukan kerjasama, komitmen yang kuat, kesungguhan dan implementasi nyata dari semua pihak, sehingga profil pelajar pancasila dapat tertanam pada diri peserta didik.

    Tujuan mengimplementasikan P5 tema gaya hidup berkelanjutan di SMP Muhammadiyah 10 Yogyakarta untuk mengetahui keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah dalam membangun mutu lulusan dalam kurikulum merdeka melalui program sekolah penggerak (PSP). Keberhasilan melaksanakan PSP sangat tergantung peran kepemimpinan kepala sekolah. Oleh sebab itu, syarat yang harus dimiliki kepala sekolah tidak hanya memiliki kualifikasi saja tetapi perlu kecakapan lainya seperti, kecakapan manajerial, leardeship, dan intraneurship untuk membangum sekolah unggul dan mutu yang pada akhirnya percontohan untuk sekolah sekitarnya.  

    PSP merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mewujudkan visi pendidikan Indonesia yaitu terciptanya pelajar Pancasila yaitu pelajar yang memiliki berdaulat, mandiri, dan berkepribadian.  Melalui PSP berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi dan karakter yang diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru) (Syafi’i, 2021). Setelah keberhasilan mewujudkan PSP tersebut, kepala sekolah juga dituntut untuk mampu memimpin dalam pelaksanaan IKM yang didalamnya memuat P5.

    B. DESKRIPSI HASIL PEMBAHASAN P5

    1. Hasil Implementasi  (P5) Gaya Hidup Berkelanjutan

    Hasil pelaksanaan kegiatan P5 tema gaya hidup berkelanjutan yaitu sampah membawa berkah. Pelaksanaan P5ini dimulai dari tahap pengenalan, pelaksanaan, dan evaluasi.  Kegiatan setiap tahap P5 memiliki tujuan masing-masing dan dapat diambil esensinya oleh para siswa.

    Tahap pengenalan bertujuan agar siswa mengenali dan memahami sampah sebagai faktor penyebab pencemaran lingkungan khususnya sampah plastik yang sulit teruraikan. Saat ini semakin banyak di lingkungan sekitar kita. Para siswa akan memahamai bahwa sampah akan membahayakan kesehatan dan kelangsungan hidup manusia atau lingkungan.

    Setelah tahap pengenalan, siswa masuk dalam tahap kontekstualisasi dengan melakukan riset terpadu dan mandiri, serta melihat konteks lingkungan sekitar yang berkaitan dengan potensi pencemaran lingkungan oleh sampah plastik. Selama proses proyek ini berjalan, siswa tidak hanya membentuk pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran dan melakukan penyelidikan secara kritis sehingga pada akhirnya dapat merencanakan solusi aksi dari situasi yang telah mereka ketahui dan pahami. Pada tahap ini, siswa menuangkan aksi nyata mereka dengan melakukan pengelolaan sampah dan menjadi gaya hidup serta mampu menyuarakan bagi komunitas sekolah agar terbangun kesadaran yang lebih luas. Selain itu, juga merencanakan beberapa solusi program sekolah agar komunitas sekolah dapat berkontribusi untuk   mengurangi sampah plastik dan pengelolaan sampah menjadikan berkah untuk siswa lain bagi yang membutuhkannya seperti membantu pembayaran sekolah.

    Indikator keberhasilan capaian penilaian (CP) yang terdapat di dalam tiga dimensi Profil Pelajar Pancasila (P3) tersebut yaitu sebagai berikut.

    Tabel 1. Indikator Keberhasilan Capaian Penilaian

    NoDimensi P5Elemen P5Sub-elemen P5Target Pencapaian di Akhir
    1Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME, dan Berakhlak MuliaAkhlaq terhadap AlamMemahami Keterhubungan Ekosistem BumiMemahami konsep sebab-akibat di antara berbagai ciptaan Tuhan dan mengidentifikasi berbagai sebab yang mempunyai dampak baik atau buruk, langsung maupun tidak langsung, terhadap alam semesta
    Menjaga Lingkungan Alam SekitarMemahani dan menjaga Lingkungan Alam SekitarMewujudkan rasa syukur dengan berinisiatif untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan alam sekitarnya dengan mengajukan alternatif solusi dan mulai menerapkan solusi tersebut
    Akhlaq terhadap ManusiaMemahami hubungan silaturahmi sesama manusiaMewujudkan hubungan baik antara siswa, guru, dan masyarakat lainnya, menumbuhkan sikap sopan santun terhadap sesama, dan mampu bersosialisasi dengan masyarakat
    2Bernalar KritisBerfikir dengan bernalarMengajukan pertanyaanMengajukan pertanyaan untuk klarifikasi dan interpretasi informasi, serta mencari tahu penyebab dan konsekuensi dari informasi tersebut
    Berfikir kritisMengidentifikasi, mengklarifikasi, dan mengolah informasi dan gagasanMengidentifikasi, mengklarifikasi, dan menganalisis informasi yang relevan serta memprioritaskan beberapa gagasan tertentu
    Evaluasi mandiriMengidentifikasi, merefleksi dan mengevaluasi secara mandiriMembuktikan penalaran dengan berbagai argumen dalam mengambil suatu kesimpulan atau keputusan
    3Gotong RoyongBerbagiMenumbuhkan rasa saling tolong menolong, dan rendah hatiMengupayakan memberi hal yang dianggap penting dan berharga kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan di sekitar tempat tinggal

        Berdasarkan tabel indikator keberhasilan capaian penilaian, penilaian kepada siswa dalam melaksanakan kegiatan P5 tersebut dilakukan oleh guru dalam bentuk Rapor P5. Nilai diambil berdasarkan kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan siswa dalam P5 dan pengerjaan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) selama pelaksanaan P5.

        2. Hasil Kepemimpinan dalam Membangun Mutu Lulusan dalam Kurikulum Merdeka

          Tercapainya mutu lulusan yang berkualitas tidak lepas dari pengaruh seorang pemimpin di sekolah. Sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian termasuk didalamya kewibawaan untuk dijadikan sebagai sarana (motor penggerak) dalam rangka menyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta tidak merasa terpaksa merupakan pengertian kepemimpinan (Achmad, 2016). Pemimpin yang menjadi kunci pokok keberhasilan siswa yaitu guru sebagai pemimpin siswa dalam kegiatan pembelajaran. Hal tersebut karena guru adalah orang yang memiliki kedekatan tinggi dengan siswa dan menjadi pemimpin bagi siswa di sekolah (K & Riani, 2020). Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Ginting (2012) juga menyatakan bahwa kunci mutu pendidikan nasional terletak pada mutu pendidikan (sekolah) dan kunci mutu sekolah terletak pada mutu kegiatan belajar mengajar di kelas. Mutu kegiatan belajar mengajar pada akhirnya diukur dari mutu hasil belajar yang dicapai siswa.

          Berhasil tidaknya siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran tidak lepas dari peran seorang guru. Akan tetapi, kinerja guru yang berkualitas dalam melaksanakan tupoksinya tidak lepas pula dari peran kepemimpinan kepala sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah sangat menentukan mutu karena tanpa kepemimpinan yang baik proses peningkatan mutu tidak dapat dilakukan dan diwujudkan (Ivan Fanani Qomusuddin & Ubun Bunyamin, 2020). Kepemimpinan kepala sekolah menjadi indikator keberhasilan sekolah tersebut dalam mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan serta dalam menciptakan mutu lulusan yang berkualitas.

          Sekarang ini, siswa dihadapkan dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat. Perkembangan teknologi tersebut ada dampak positif maupun negatif yang dapat mempengaruhi kesehatan mental siswa maupun mempengaruhi kualitas pendidikan. Jika siswa tidak bisa mengendalikan dampak perkembangan teknologi ini, seperti telah kecanduan game online atau melihat hal-hal yang negatif dari gadget maka kesehatan mental siswa akan menurun yang dapat mempengaruhi kualitas akademik siswa pula. Dengan demikian, pemerintah melaluli kebijakan baru dalam penerapan kurikulum baru yaitu kurikulum merdeka memiliki tujuan untuk mengemas konsep pembelajaran yang menyenangkan dan memanfaatkan perkembangan digitalisasi untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang berkualitas serta menciptakan mutu lulusan yang berkualitas pula. Hal tersebut, selaras dengan yang diungkapkan oleh Nasution (2021) bahwa kurikulum merdeka belajar ingin menciptakan suasana belajar yang bahagia dan tujuan merdeka belajar adalah agar para guru, peserta didik, serta orang tua bisa mendapat suasana yang bahagia pula. Kurikulum merdeka menciptakan pembelajaran aktif dan kreatif (Malikah et al., 2022, p. 5913). Dalam kurikulum merdeka konsep pembelajaran yang menyenangkan, aktif, dan kreatif salah satunya dengan memberikan kegiatan proyek kepada siswa yaitu Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

          Implementasi pelaksanaan P5 yaitu dapat menciptakan lulusan yang berkualitas dengan terbentuk dari implementasi nilai-nilai yang tertanam dalam pelajar Pancasila, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, serta kreatif. Profil Pelajar Pancasila yang dibentuk dari implementasi kurikulum merdeka di sekolah ingin membekali siswa dengan nilai-nilai tersebut agar dapat membudaya dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk bekal di masa depan.

          Dengan demikian, siswa yang memiliki bekal nilai-nilai dalam Profil Pelajar Pancasila akan memiliki kualitas unggul untuk bekal hidup di masa yang akan datang.

          a. Mendukung kebijakan Pemerintah Mengikuti PSP

            Kepala sekolah di SMP Muhammdiyah 10 Kota Yogyakarta dinilai berhasil mendukung program P5 sebab kepala sekolah mampu dan berupaya meningkatkan perkembangan hasil pembelajaran siswa yang sesuai dengan kompetensi dan karakter pelajar Pancasila. Sebelumnya sekolah belum  efektif melaksanakan pembentukan karakter siswa karena lebih fokus pada hasil akademik. Sebagai upaya untuk melanjutkan dan mengembangkan kebijakan peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui kebijakan kemenristekdikti nomor 371/M/2021 (2021) menginisiasi Program Sekolah Penggerak. Dalam hal ini kepala sekolah berupaya mendorong satuan pendidikannya melakukan transformasi diri untuk meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah, kemudian melakukan pengimbasan ke sekolah lain untuk melakukan peningkatan mutu serupa.

            b. Mendukung program Pemerintah Mengikuti Kurikulum Merdeka.

            Kemampuan kepala sekolah pada lini ini dinalai berhasil secara efektif, sebab kurikulum merdeka yang dibuat sekolah dibuat untuk menyempurnakan kekurangan dalam implementasi kurikulum 2013, apalagi ketika masa pandemi Covid-19 siswa mengalami lost learning. Kurikulum merdeka yang dibuat sekolah sebagai upaya mengejar dan mengatasi lost learning sekaligus untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang cepat beradaptasi dengan perkembangan dan kemajuan tatanan kehidupan dunia yang menuntut serba cepat (Hilmin et al., 2022). Kepemimpinan yang sukses dalam membangun mutu lulusan salah satunya yaitu dengan mengimplementasikan kebijakan penerapan kurikulum merdeka yang telah dianjurkan oleh pemerintah tersebut.

            Keberhasilan pelaksanaan program terkait mendukung program pemerintah yaitu mengikuti kurikulum merdeka ini juga tidak lepas dari pengaruh kepemimpinan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Kepala sekolah telah melaksanakan perannya sebagai inovator keberhasilan pelaksanaan program sekolah. Kepala sekolah sebagai inovator mampu menentukan serta melaksanakan berbagai pembaharuan di sekolah (Munajat, 2021). Selain itu, kepala sekolah juga berperan sebagai motivator dalam hal melaksanakan strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada guru dalam melaksanakan kurikulum merdeka di pembelajaran.

            c. Mengadakan Kegiatan sesuai Karakteristik Sekolah dan Siawa.

            Program ini efektif dilaksanakan karena kurikulum merdeka memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada sekolah untuk berinovasi untuk menciptakan lingkungan belajar yang berpihak pada siswa. Lokus ini trenyata mampu mengatasi permasalahan di sekolah sebab pada saat ini pembelajaran masih berfokus pendekatan teachers center. Dengan penerapan konsep merdeka belajar pada kurikulum merdeka sekolah dapat memberikan kebebasan dalam menentukan model pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik sekolah serta siswa. Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar atau media/sumber belajar ajar variatif sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik (Kemendikbudristek, 2022). Hasil implimentasi P5 pada PSP ini didukung  pendapat Marisa (2021) yang menyatakan bahwa kurikulum merdeka belajar ini berkaitan dengan bagaimana seorang pendidik mampu menyampaikan materi pelajaran dengan mengaitkan pada pembentukan karakter peserta didik.

            Keberhasilan pelaksanaan program terkait mengadakan kegiatan yang sesuai dengan karakteristik sekolah dan peserta didik ini juga tidak lepas dari pengaruh kepemimpinan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Kepala sekolah telah melaksanakan perannya sebagai inovator keberhasilan pelaksanaan program sekolah tersebut. Kepala sekolah sebagai inovator mampu menentukan serta melaksanakan berbagai pembaharuan di sekolah (Munajat, 2021). Selain itu, kepala sekolah juga berperan sebagai manager (pengelola) yang merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan kegiatan sekolah agar tercapai sesuai tujuan. Keberhasilan pelaksanaan program ini juga karena pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya yaitu menerapkan gaya kepemimpinan demokratis. Dalam gaya kepemimpinan demokratis tersebut guru didorong untuk berbagi ide dan pendapat meskipun pemimpin mempertahankan keputusan akhirnya (Cherry, 2006). Dengan begitu guru lebih terlibat dalam proses dan lebih termotivasi dan kreatif dalam memberika ide kreatif dalam membuat kegiatan yang sesuai dengan karakteristik siswa dan sekolah.

            d. Memanafaat Sunber Daya Sekolah Potensial

            Program ini efektif dilaksanakan karena pengembangan sumber belajar yang baik harus disesuaikan dengan kondisi sekolah serta karakteristik siswa dalam sekolah tersebut. Hal ini lebih efektif diterapkan karena untuk mengatasi pengembangan sumber belajar yang tidak sesuai atau tidak relevan dengan potensi wilayah dalam sekolah tersebut. Kurikulum merdeka dalam hal ini memberikan kebebasan kepada satuan pendidikan di masing-masing  sekolah  yaitu guru,  dan  peserta  didik dapat mengembangkan  pembelajaran (Hamzah, 2022).

            Salah satu keberhasilan PSP adalah kebijakan dan penataan serta memanfatkan berbagai fasilitas sumber belajar untuk mendukung proses pembelajaran. Kepala sekolah telah melaksanakan perannya sebagai inovator keberhasilan pelaksanaan program sekolah. Hasil kajian ini sependapat dengan pernyataan (Mukayat, 2021) bahwa kepala sekolah sebagai inovator mampu menentukan serta melaksanakan berbagai pembaharuan di sekolah. Selain itu, kepala sekolah juga berperan sebagai manager dalam merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan pelaksanaan program agar dapat mencapai tujuan, serta sebagai leader yang memberikan petunjuk kepada guru dalam menggunakan sumber belajar yang tepat. Keberhasilan pelaksanaan program ini juga tidak lepas dari gaya kepemimpinan delegatif (Laissez-Faire) kepala sekolah (Cherry, 2006). Guru diberikan kebebasan untuk membuat keputusan terkait penggunaan sumber belajar yang tepat yang telah tersedia di sekolah yang dapat menunjang keberhasilan pembelajaran.

            e. Penerepan Prinsip-Prinsip Pelajar Pancasila dalam Pembelajaran Intrakurikuler dan Ekstrakurikuler serta Pelaksanaan Proyek.

            Kebijakan sekolah pada kegiatan ini dinilai efektif dilaksanakan sebab relevan dengan pelaksanaan kurikulum merdeka yang memuat salah satu kegiatan P5). Tujuan kegiatan P5 tersebut yaitu fokus pada penanaman karakter siswa yang dapat membudaya dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan P5 tersebut efektif dalam mengatasi permasalahan di sekolah sekarang ini yang belum fokus pada penanaman karakter siswa tetapi lebih fokus pada akademik siswa. Hal ini sesuai dengan struktur kurikulum merdeka jenjang SMP atau fase D. Struktur kurikulum merdeka, khususnya jenjang SMP atau fase D terdapat dua struktur yaitu pembelajaran intrakurikuler dan Projek P5 adalah pembelajaran lintas disiplin ilmu untuk mengamati dan memikirkan solusi terhadap permasalahan di lingkungan sekitarnya (Sufyadi et al., 2021, p. 6).

            Keberhasilan pelaksanaan program terkait menggunakan prinsip pelajar Pancasila dalam pembelajaran intrakurikuler dan ekstrakurikuler maupun kegiatan proyek ini juga tidak lepas dari pengaruh kepemimpinan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Kepala sekolah telah melaksanakan perannya sebagai inovator keberhasilan pelaksanaan program sekolah. Kepala sekolah sebagai inovator mampu menentukan serta melaksanakan berbagai pembaharuan di sekolah (Munajat, 2021). Selain itu, kepala sekolah juga berperan sebagai motivator dalam hal melaksanakan strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada guru dalam melaksanakan pembelajaran sesuai prinsip pelajar Pancasila. Kepala sekolah juga berperan sebagai leader dalam hal melakukan pengawasan dan memberikan petunjuk dalam pelaksanaan pembelajaran intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan proyek yang sesuai prinsip pelajar Pancasila. Keberhasilan pelaksanaan program ini juga karena pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah demokratis (Cherry, 2006) karena guru dalam melaksanakan pembelajaran intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan proyek diberikan kebebasan untuk menyampaikan ide serta kreativitasnya.

            f. Meningkatkan Kualitas SDM dengan Kegiatan Pelatihan dan Bimbingan Teknis (Bimtek) sesuai dengan Perkembangan Kurikulum Merdeka.

            Program kepala sekolah ini efektif dilaksanakan karena program bimtek dapat meningkatan skill guru, apalagi dalam pengembangan yang sesuai dengan kurikulum merdeka. Guru perlu mendapatkan banyak pengetahuan melalui kegiatan pelatihan-pelatihan tersebut. Hal tersebut juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Achmad (2016) bahwa pelaksanaan pembelajaran dipengaruhi oleh sekitarnya diantaranya adalah kepemimpinan kepala sekolah yang memiliki implikasi terhadap peningkatan kualitas guru yang berdampak terhadap proses belajar mengajar. Dengan adanya peningkatan mutu guru maka akan berdampak terhadap mutu lulusan atau output dan outcome. Dalam proses belajar mengajar guru memegang peran yang sangat penting karena kunci utama didalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah mutu para gurunya.

            Keberhasilan pelaksanaan program terkait meningkatkan kualitas SDM dengan memberikan pelatihan atau bimtek sesuai dengan perkembangan kurikulum merdeka juga tidak lepas dari pengaruh kepemimpinan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Kepala sekolah telah melaksanakan perannya sebagai inovator keberhasilan pelaksanaan program sekolah. Kepala sekolah sebagai inovator mampu menentukan serta melaksanakan berbagai pembaharuan di sekolah (Munajat, 2021). Selain itu, kepala sekolah juga berperan sebagai motivator dalam hal melaksanakan strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada guru dalam mengikuti pelatihan. Keberhasilan pelaksanaan program ini juga karena kepala sekolah menerapkan gaya kepemimpinan birokrasi (Mattayang, 2019). Kepala sekolah dengan tegas memerintahkan guru untuk mengikuti pelatihan dan bimtek guna menunjuang profesionalisme guru dalam pembelajaran, khususnya terkait penerapan kurikulum merdeka. Pelaksanaan pelatihan tersebut juga demi kebaikan para guru dalam meningkatkan kemampuannya.

            g. Mengoptimalkan Sarana dan Prasarana dalam Mendukung Kegiatan Pembelajaran maupun Kegiatan Proyek Siswa.

            Kebijakan sekolah ini juga dinilai efektif dalam pelaksanaannya karena tercapainya suatu program atau kegiatan salah satunya dengan tersedianya sarana dan prasarana pendukung. Untuk sekolah penggerak, pemerintah juga telah memberikan bantuan BOS Kinerja yang dapat digunakan untuk melengkapi sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan pembelajaran maupun kegiatan P5. Untuk meningkatkan lulusan yang berdaya saing pun dibutuhkan sarana dan prasarana yang mendukung (Endaryono et al., 2021). Pendapat lain yang mendukung pernyataan ini yaitu dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Megasari (2014) bahwa pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan sangat penting dikelola dengan baik karena sarana prasarana merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari manajemen pendidikan. Fungsi pengelolaan sarana dan prasarana sangat mendasar sekali dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, menciptakan iklim sosio emosional dan mengelola proses kelompok, sehingga keberhasilan guru dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan, indikator proses belajar mengajar berlangsung secara efektif.

            Keberhasilan pelaksanaan program terkait mengoptimalkan sarana dan prasarana dalam mendukung kegiatan pembelajaran maupun kegiatan proyek siswa ini juga tidak lepas dari pengaruh kepemimpinan yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) dalam memberikan petunjuk serta pengawasan dalam pengoptimalan sarana dan prasarana (Munajat, 2021). Selain itu, kepala sekolah juga berperan sebagai administrator karena bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan pendidikan. Dengan demikian, secara keseluruhan keberhasilan pelaksanaan program sekolah karena didukung dari peran kepala sekolah sebagai penanggung jawab keterlaksanaan program-program sekolah tersebut.

            C. SIMPULAN

              Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tema ini relevan dengan kehidupan di zaman sekarang karena siswa berhadapan dengan problematika limbah sampah dan ditantang untuk bisa ikut andil dalam pengolahan sampah yang bernilai guna. Melalui proyek tersebut, siswa diharapkan akan mengembangkan secara spesifik tiga  dimensi Profil Pelajar Pancasila, yakni beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis, serta bergotong-royong.

              Dengan demikian, keterlaksanaan berbagai program tersebut bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan sesuai profil pelajar Pancasila yang dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, juga untuk membangun mutu lulusan yang berkualitas. Maka dari itu, kepemimpinan yang sukses dalam membangun mutu lulusan dalam kurikulum merdeka ini sangat dibutuhkan untuk menunjang keberhasilan mutu sekolah pula.

              DAFTAR PUSTAKA

              Achmad, A. K. (2016). Kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 1, 115–126. https://doi.org/10.24952/ibtidaiyah.v2i1.5622

              Cherry, K. (2006). Leadership style. Retrieved From. https://psychology.about.com/od/leadership/

              Endaryono, B. T., Wasliman, I., Iriantara, Y., & Sauri, U. S. (2021). Gaya kepemimpinan demokratis kepala smk dalam meningkatkan mutu lulusan berdaya saing di smk bina mandiri dan smk karya guna 2 kota bekasi. JABE (Journal of Applied Business and Economic), 7(3), 357. https://doi.org/10.30998/jabe.v7i3.9125

              Ginting, R., & Haryati, T. (2012). Kepemimpinan dan konteks peningkatan mutu pendidikan. Jurnal Ilmiah CIVIS, II(2), 1–17.

              Hamzah, M. R. (2022). Kurikulum merdeka belajar sebagai wujud pendidikan yang memerdekakan peserta didik. Arus Jurnal Pendidikan (AJUP), 2(3), 221–226.

              Hilmin, H., Noviani, D., & Nafisah, A. (2022). Kebijakan pemerintah daerah dalam penerapan kurikulum merdeka. Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan Dan Sosial Humaniora, 2(2), 148–162. https://journal.amikveteran.ac.id/index.php/Khatulistiwa/article/view/565

              Ivan Fanani Qomusuddin, & Ubun Bunyamin. (2020). Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan kompetensi guru terhadap kinerja guru. Jurnal Pendidikan Indonesia, 1(2), 61–76. https://doi.org/10.36418/japendi.v1i2.3

              K, K., & Riani, R. (2020). Kepemimpinan guru di sekolah. Genta Mulia: Jurnal Ilmiah …, XI(2), 84–92. https://ejournal.stkipbbm.ac.id/index.php/gm/article/view/453

              Kemendikbudristek. (2022). Buku Saku: Tanya Jawab Kurikulum Merdeka. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset Dan Teknologi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset Dan Teknologi, 9–46. http://repositori.kemdikbud.go.id/id/eprint/25344

              Makrifah, A. N., Harsiatib, T., & Mashfufahb, A. (2023). Penerapan assessment for learning dalam projek penguatan profil pelajar pancasila (p5) tema gaya hidup berkelanjutan di kelas 1 sd. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 2(2), 369–378.

              Malikah, S., Winarti, W., Ayuningsih, F., Nugroho, M. R., Sumardi, S., & Murtiyasa, B. (2022). Manajemen pembelajaran matematika pada kurikulum merdeka. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 4(4), 5912–5918. https://doi.org/10.31004/edukatif.v4i4.3549

              Marisa, M. (2021). Inovasi kurikulum “merdeka belajar” di era society 5.0. Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidiikan Dan Humaniora), 5(1), 72. https://doi.org/10.36526/js.v3i2.e-ISSN

              Mattayang, B. (2019). Tipe dan gaya kepemimpinan: Suatu tinjauan teoritis. JEMMA | Journal of Economic, Management and Accounting, 2(2), 45. https://doi.org/10.35914/jemma.v2i2.247

              Megasari, R. (2014). Peningkatan pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di smpn 5 bukittinggi. Jurnal Administrasi Pendidikan FIP UNY, 2(1), 636–648.

              Mendikbudristek. (2022). Keputusan menteri pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi republik indonesia nomor 56/m/2022 tentang pedoman penerapan kurikulum dalam rangka pemulihan pembelajaran. In Menpendikbudristek (pp. 1–112). Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. jdih.kemendikbud.go.id

              Munajat, J. (2021). Manajemen kepemimpinan kepala sekolah untuk pengembangan profesionalisme guru suatu upaya untuk membangkitkan kepedulian para pemangku kepentingan pendidikan di sekolah (E. T. Rukmansyah (ed.); I). Bintang Pustaka Madani.

              Nasution, S. W. (2021). PROSIDING PENDIDIKAN DASAR: Assesment kurikulum merdeka belajar di sekolah dasar. MAHESA Research Center, 1(1), 135–142. https://doi.org/10.34007/ppd.v1i1.181

              Rachmawati, N., Marini, A., Nafiah, M., & Nurasiah, I. (2022). Projek penguatan profil pelajar pancasila dalam Impelementasi kurikulum prototipe di sekolah penggerak jenjang sekolah dasar. Jurnal Basicedu, 6(3), 3613–3625. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i3.2714

              Sufyadi, S., Harjatanaya, T. Y., Adiprima, P., Satria, M. R., Andiarti, A., & Herutami, I. (2021). Panduan pengembangan projek penguatan profil pelajar pancasila (T. Hartini (ed.); I). Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

              Syafi’i, F. F. (2021). Merdeka belajar: sekolah penggerak. PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN DASAR “Merdeka Belajar Dalam Menyambut Era Masyarakat 5.0,” November, 46–47.

              Minat Menulis Siswa

              Oleh Armi Kholifah

              SD Negeri Kalipucang, Kasihan Bantul Yogyakarta

              Menulis merupakan salah satu keterampilan yang berkaitan erat dengan keterampilan dasar terpenting pada manusia, yaitu berbahasa. Menurut Tarigan (1986:3), menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Hal ini mengandung pengertian bahwa dengan tulisan dapat membantu menjelaskan pikiran-pikiran kita melalui sebuah tulisan tanpa saling bertatap muka. Oleh karena itu siswa perlu memiliki kemampuan menulis dengan baik. Namun fenomena yang ditemui oleh penulis, beberapa siswa lebih suka melakukan aktivitas kreatif visual daripada menulis. Ada juga sebagian siswa yang memiliki kebiasaan suka membeli buku tulis tetapi tidak pernah menulis. Untuk mengetahui faktor apa yang mempengaruhi kebiasaan siswa tersebut, penulis melakukan wawancara mendalam terhadap 10 siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri Kalipucang.

              Dari hasil wawancara dengan siswa, dapat diidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kebiasaan atau minat siswa lebih tertarik melakukan aktivitas kreatif visual daripada menulis adalah kurangnya motivasi dan minat dalam menulis, keterbatasan keterampilan menulis, dan kurangnya dorongan dari lingkungan. Sementara faktor yang mempengaruhi kebiasaan siswa yang tidak pernah menulis tetapi rajin membeli buku tulis adalah kurangnya pemahaman tentang pentingnya menulis dan rasa takut atau tidak nyaman untuk menulis.

              Bagaimana mengatasi permasalahan tersebut?

              Untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa dapat dilakukan dengan memberikan latihan menulis secara teratur dan sistematis, sedangkan untuk meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran dan menulis narasi, dapat menggunakan media pembelajaran. Hamalik (dalam Arsyad, 2011: 15-16) menyatakan bahwa penggunaan media pembalajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Media pembelajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi. Dalam hal preferensi siswa terhadap aktivitas kreatif visual daripada menulis, guru dapat mempertimbangkan untuk menggunakan pendekatan pembelajaran yang lebih visual dan kreatif. Misalnya, guru dapat meminta siswa untuk membuat poster atau video pendek untuk mengekspresikan gagasan mereka.

              Selain meningkatkan keterampilan, minat dan motivasi siswa, dorongan dan dukungan juga sangat diperlukan terutama dari teman-teman sebaya, guru. dan juga orang tua.

              Kurangnya pemahaman tentang pentingnya menulis merupakan masalah yang kompleks dan memerlukan solusi yang beragam. Salah satu solusi untuk mengatasi kurangnya pemahaman tentang pentingnya menulis adalah dengan meningkatkan kesadaran siswa tentang manfaat menulis, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam karir di masa depan. Guru juga dapat memperkenalkan kegiatan menulis yang menyenangkan dan kreatif kepada siswa, sehingga siswa dapat memahami bahwa menulis bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan dan tidak membosankan.

              Gambar 1. Menulis yang menyenangkan dengan permainan

              Selain memperbaiki pemahaman urgensi menulis, rasa takut atau tidak nyaman dalam menulis juga perlu diatasi. Guru dapat membantu siswa untuk mengatasi ketakutan mereka dengan memberikan dukungan dan bimbingan dalam menulis. Guru juga dapat memberikan umpan balik yang konstruktif untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa. Faktor tekanan sosial dari teman sebaya dan kebiasaan membeli barang-barang yang tidak diperlukan juga perlu diperhatikan. Dengan beberapa pendekatan-pendekatan tersebut, minat menulis siswa dapat lebih meningkat.

              Daftar Pustaka

              Abidin, Y., dkk. (2017). Pembelajaran Literasi: Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis. Jakarta: Bumi Aksara.

              Miles, M., Michael H., dan Johny S. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. California: SAGE Publications.

              Moleong, L. J. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif:Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

              Syah, M. (2014). Telaah Singkat Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

              Inovasi dalam Pembelajaran Procedure Text: Menghadirkan PBL dengan Pemanfaatan Barang Bekas di Era Kurikulum Merdeka

              Oleh: Syafaruddin Marpaung, S.Pd.,M.Hum.

              SMA Negeri 2 Kota Tanjungbalai

              Dalam era perkembangan teknologi dan informasi yang pesat, pendidikan memiliki tantangan baru dalam menghadirkan pembelajaran yang menarik dan relevan bagi siswa. Kurikulum Merdeka merupakan konsep pendidikan yang memberikan kebebasan kepada guru untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi siswa. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam Kurikulum Merdeka adalah Project Based Learning (PBL). Model PBL menggabungkan konsep pembelajaran melalui proyek nyata yang menuntut siswa untuk aktif berkolaborasi, berpikir kritis, dan memecahkan masalah secara kreatif.

              Dalam konteks Kurikulum Merdeka pada pelajaran Bahasa Inggris SMA terdapat materi procedure text. Materi ini diajarkan pada Fase E dan Fase F, kelas X, XI, dan XII. Penggunaan model PBL saat membelajarkan procedure text dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris siswa dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas mereka. Salah satu topik yang dapat diangkat dalam materi procedure text adalah pemanfaatan barang bekas untuk menunjang proses pembelajaran di sekolah. Barang-barang bekas yang tidak terpakai seperti paralon, botol plastik, triplek, kotak kardus, koran bekas, potongan kayu, perca kain, kaleng, karet ban, dan lain-lain. Semua barang bekas tersebut dapat diubah menjadi barang-barang yang lebih bermanfaat, seperti tripod pembuatan video pembelajaran, papan nama kelompok, papan pengumuman, keranjang koran, tempat lampu, vas dan pot bunga, lukisan, tempat pensil, rak sederhana, dan lain sebagainya.

              Pemanfaatan barang bekas dalam pembelajaran memiliki alasan yang sangat kuat. Banyak barang-barang bekas yang terbuang percuma dan berakhir menjadi limbah, padahal masih berpotensi untuk dapat dimanfaatkan kembali. Dengan memanfaatkan barang bekas tersebut, kita dapat mengajarkan siswa tentang pentingnya mengurangi limbah dan mengedukasi mereka tentang konsep daur ulang. Selain itu, penggunaan barang bekas juga dapat mengembangkan sikap kreatif, inovatif, dan berkelanjutan pada siswa. Mereka akan belajar untuk melihat peluang dalam hal-hal yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dan mengubahnya menjadi barang-barang yang memiliki nilai dan manfaat bagi kegiatan pembelajaran.

              Selama ini, materi procedure text dalam pelajaran Bahasa Inggris lebih banyak berfokus pada proses pembuatan makanan dan minuman, terlebih-lebih pada materi procedure text di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berdasarkan identifikasi penulis pada buku-buku paket Bahasa Inggris baik tingkat SMP dan SMA hampir semua berisikan materi procedure text tentang pembuatan makanan dan minuman. Meskipun penting untuk mempelajari langkah-langkah dalam proses memasak, siswa dapat merasa bosan dan kurang termotivasi dengan konten yang monoton tersebut. Oleh karena itu, guru perlu memiliki kreativitas dalam menemukan ide-ide baru yang berhubungan dengan procedure text dan dapat menarik minat siswa. Pemanfaatan barang bekas sebagai konteks dalam pembelajaran procedure text dapat memberikan variasi yang menarik dan menyegarkan bagi siswa, sehingga mereka akan lebih termotivasi dan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

              Dalam penelitian sebelumnya (Sugiharyanti, 2022), ditemukan bahwa penerapan model pembelajaran PBL pada pelajaran Bahasa Inggris mampu meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan hasil belajar siswa. Melalui PBL, siswa akan belajar melalui pengalaman nyata dan memecahkan masalah yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Mereka akan belajar berkolaborasi dalam tim, mengembangkan keterampilan menulis dan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, dan menciptakan produk akhir yang dapat dipresentasikan kepada orang lain.

              Dalam artikel ini, akan dibahas lebih lanjut tentang implementasi Kurikulum Merdeka dengan penerapan model pembelajaran PBL pada pelajaran Bahasa Inggris dengan materi procedure text yang mengangkat pemanfaatan barang bekas. Diharapkan artikel ini dapat memberikan wawasan dan inspirasi bagi guru dalam merancang pembelajaran yang bermakna, menarik, dan relevan dengan kebutuhan siswa dalam era pendidikan yang terus berkembang.

              Implementasi Model Pembelajaran Project Based Learning (PBL) pada Materi Procedure Text

              Procedure text merupakan jenis teks yang digunakan untuk memberikan instruksi langkah demi langkah tentang bagaimana melakukan suatu kegiatan atau proses tertentu. Tujuan dari procedure text adalah untuk memberikan panduan yang jelas kepada pembaca agar mereka dapat melakukan suatu tindakan dengan benar dan efektif (Bafadal, 2017). Generic structure dari procedure text terdiri dari:

              • Goal/Introduction: bagian ini menjelaskan tujuan atau hasil akhir yang ingin dicapai dari langkah-langkah yang akan dijelaskan dalam teks.
              • Materials/Ingredients: bagian ini berisi daftar bahan atau peralatan yang diperlukan untuk melaksanakan proses.
              • Steps/Methods: bagian ini menjelaskan langkah-langkah atau tahapan yang harus diikuti untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
              • Result / Closing: bagian ini menyimpulkan proses atau memberikan catatan tambahan yang relevan dengan tujuan atau prosedur yang dijelaskan.

              Procedure text telah dipelajari siswa di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan dilanjutkan di tingkat SMA. Procedure text perlu dipelajari karena memiliki beberapa alasan penting. Pertama, procedure text membantu siswa memahami bagaimana melakukan suatu tindakan dengan benar, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam konteks profesional. Keterampilan ini sangat diperlukan dalam berbagai bidang, seperti memasak, perawatan kesehatan, dan kegiatan teknis lainnya. Kedua, mempelajari procedure text membantu siswa mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris mereka. Mereka akan belajar kosakata dan frasa yang berkaitan dengan proses dan tindakan, serta mengasah keterampilan membaca dan memahami teks dalam Bahasa Inggris (Jaja et al., 2021).

              Berdasarkan isinya, procedure text dapat dikelompokkan menjadi tiga (3) jenis, yaitu:

              1. Teks Proses Pembuatan: jenis teks ini menjelaskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk membuat atau menghasilkan sesuatu. Contohnya: resep makanan, minuman, pembuatan kerajinan tangan, dan lain-lain.
              2. Teks Proses Operasional: jenis teks ini memberikan instruksi tentang bagaimana menggunakan atau mengoperasikan suatu perangkat atau sistem. Contohnya:  petunjuk penggunaan mesin fotokopi, mesin cuci, alat vacuum cleaner, panduan penggunaan aplikasi komputer, atau instruksi penggunaan perangkat lunak.
              3. Teks Proses Perbaikan: jenis teks ini memberikan langkah-langkah untuk memperbaiki suatu masalah atau merawat suatu perangkat. Contohnya:  panduan perbaikan komputer, petunjuk perawatan mobil, atau langkah-langkah perbaikan pipa yang bocor.

              Kebanyakan procedure text pada buku-buku paket memuat isi tentang proses pembuatan makanan dan minuman sehingga penulis mencoba memberikan pilihan lain tentang proses pembuatan produk dari bahan-bahan bekas yang tidak terpakai. Produk tersebut bisa dimanfaatkan di dalam kelas. Menggunakan jenis procedure text tersebut, siswa akan belajar tentang proses konversi bahan bekas menjadi barang-barang yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Mereka akan terlibat dalam praktik langsung dan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang konsep daur ulang dan pentingnya mengurangi limbah.

              Model pembelajaran Project Based Learning (PBL) merupakan salah satu model yang dapat diintegrasikan dengan Kurikulum Merdeka untuk meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar siswa (Aroka et al., 2023). Implementasi model PBL dalam pembelajaran Bahasa Inggris dengan materi procedure text tentang pemanfaatan barang-barang bekas menjadi barang nilai berguna memiliki beberapa tujuan, antara lain:

              • meningkatkan kemampuan siswa dalam menggunakan Bahasa Inggris secara aktif dan efektif.
              • mengembangkan keterampilan siswa dalam memahami, menginterpretasi, dan mengikuti instruksi dalam Bahasa Inggris.
              • mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif dalam menghasilkan ide-ide baru dalam pemanfaatan barang-barang bekas.
              • memperkenalkan konsep-konsep ramah lingkungan kepada siswa dan mendorong mereka untuk menjadi individu yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.
              • mengaitkan pembelajaran Bahasa Inggris dengan kehidupan sehari-hari siswa melalui topik yang relevan dan menarik.

              Berikut adalah langkah-langkah penerapan PBL pada materi procedure text pemanfaatan barang bekas:

              • Penjelasan Konsep dan Tujuan: guru menjelaskan kepada siswa tentang konsep daur ulang, pentingnya pemanfaatan barang bekas, dan tujuan dari pembelajaran ini.
              • Pembentukan Kelompok: siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil, masing-masing terdiri dari 4-5 orang. Setiap kelompok diberikan tanggung jawab untuk memilih salah satu jenis procedure text terkait pemanfaatan barang bekas.
              • Riset dan Perencanaan: setiap kelompok melakukan riset tentang jenis procedure text yang mereka pilih, mencari informasi tentang langkah-langkah, bahan yang dibutuhkan, dan hasil akhir yang diharapkan. Mereka juga merencanakan cara presentasi yang menarik untuk membagikan hasil kerja mereka. Mereka menuliskan dalam bentuk procedure text. Kemudian dibimbing dan diperbaiki oleh guru bidang studi. Beberapa hasil tulisan procedure text siswa dapat dilihat pada gambar berikut

              Gambar 1. Beberapa Tulisan Procedure text Siswa setelah Diperbaiki

              • Implementasi Proyek: siswa melaksanakan proses pembuatan barang bekas sesuai dengan langkah-langkah yang mereka pelajari. Mereka aktif berkolaborasi, berbagi ide, dan memecahkan masalah yang muncul selama proses.
              • Presentasi dan Evaluasi: setiap kelompok mempresentasikan hasil akhir proyek mereka kepada kelas. Presentasi kelompok disampaikan dalam Bahasa Inggris. Sebelum melakukan presentasi, siswa terlebih dahulu menuliskan isi procedure text tersebut. Kemudian mereka mendiskusikan hasil tulisannya baik dengan teman kelompok dan guru pendamping. Mereka boleh merekam dan mengunggah hasil presentasi tersebut di media sosial. Siswa juga diminta mendiskusikan proses, tantangan, dan pelajaran yang mereka dapatkan. Guru memberikan umpan balik dan evaluasi terhadap presentasi dan hasil kerja siswa.

              Gambar 2. Presentasi Procedure Text oleh Siswa

              • Refleksi dan Pembelajaran: siswa melakukan refleksi pribadi dan kelompok tentang proses pembelajaran. Mereka mempertimbangkan apa yang telah mereka pelajari, kendala yang dihadapi, serta kemungkinan pengembangan lebih lanjut dalam pemanfaatan barang bekas.

              Dengan mengikuti langkah-langkah PBL ini, siswa akan mengembangkan keterampilan berpikir kritis, berkolaborasi, berkomunikasi, dan kreativitas mereka (Indriani, 2022). Mereka juga akan mengalami pembelajaran yang bermakna dan relevan dengan kehidupan sehari-hari sambil menjelajahi potensi pemanfaatan barang bekas dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Melalui kombinasi antara materi procedure text pemanfaatan barang bekas dan model pembelajaran PBL, siswa akan mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang konsep daur ulang, kemampuan berbahasa Inggris, serta keterampilan berpikir kritis dan kreativitas yang penting dalam era pendidikan yang terus berkembang.

              Gambar 3 Dokumentasi Berbagai Hasil Produk Kerajinan Siswa dari Bahan Bekas

              Tantangan dan Solusi dalam Implementasi Model PBL pada Pelajaran Bahasa Inggris SMA tentang Procedure Text.

              Berdasarkan pengalaman penulis dalam mengimplementasi model PBL pada KBM khususnya materi procedure text, terdapat beberapa tantangan. Berikut adalah beberapa tantangan yang mungkin timbul dan solusi yang dapat diterapkan:

              • Manajemen waktu: proses PBL membutuhkan waktu yang cukup sehingga perlu dilakukan perencanaan waktu yang efektif agar semua tahapan dapat diselesaikan. Guru dapat mengatur jadwal yang baik dan memberikan panduan yang jelas kepada siswa. Kegiatan mengerjakan produk tersebut dapat juga dilakukan di luar jam pelajaran setelah pulang sekolah. Namun, kegiatan tersebut sebaiknya tetap dilaksanakan di lingkungan sekolah.
              • Keterampilan guru: guru perlu memiliki pemahaman yang baik tentang model PBL dan mampu memberikan bimbingan yang efektif kepada siswa. Guru dapat mengikuti pelatihan atau melakukan penelitian lebih lanjut tentang model PBL serta terus meningkatkan keterampilan mereka.
              • Pengelompokan siswa: pembentukan kelompok yang efektif dapat menjadi tantangan karena perbedaan kemampuan dan kepribadian siswa. Guru dapat mempertimbangkan berbagai faktor saat melakukan pengelompokan, seperti gaya belajar siswa, kemampuan, minat, dan kepribadian siswa untuk memastikan kerja sama yang baik dalam kelompok. Melalui pengelompokan siswa tersebut berarti guru telah melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi (Herwina, 2021). Pembelajaran berdiferensiasi ini merupakan tuntutan dari Kurikulum Merdeka. Dengan melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi tersebut, guru telah memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing.
              • Evaluasi: proses evaluasi dalam model PBL juga perlu diperhatikan. Guru dapat menggunakan berbagai instrumen evaluasi yang sesuai, seperti penilaian produk, penilaian kelompok, atau penilaian individu untuk mengukur pencapaian siswa.

              Dengan mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan menerapkan solusi yang tepat, implementasi model PBL dalam pembelajaran Bahasa Inggris dengan materi procedure text tentang pemanfaatan barang-barang bekas menjadi barang nilai berguna dapat memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna bagi siswa.

              DAFTAR PUSTAKA

              Aroka, R., Kustati, M., Sepriyanti, N., Pascasarjana, P., Islam, S. P., Imam, U. I. N., & Padang, B. (2023). Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Di SMA Negeri 9 Padang. 3, 9609–9619.

              Bafadal. (2017). The use of origami in teaching writing procedure text of the second grade at sma muhammadiyah mataram in academic year 2016/2017 ( 1 ). Indonesian Journal of English Language Teaching, 7(2), 31–38.

              Herwina, W. (2021). Optimalisasi Kebutuhan Murid Dan Hasil Belajar Dengan Pembelajaran Berdiferensiasi. Perspektif Ilmu Pendidikan, 35(2), 175–182. https://doi.org/10.21009/pip.352.10

              Indriani, L. (2022). Penerapan Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Pada Pelajaran Bahasa Inggris. Jurnal Ilmiah Pendidik Indonesia ISSN 2830-781X, 1(1), 15–22.

              Jaja, J., Rahayu, S., & Pujiatna, T. (2021). Bahan Ajar Teks Prosedur Berorientasi Kebudayaan Lokal (Local Culture Oriented Procedure Text Teaching Materials). Indonesian Language Education and Literature, 6(2), 290. https://doi.org/10.24235/ileal.v6i2.7794

              Sugiharyanti, E. (2022). Penerapan Model Project Based Learning Berbantuan Moodle E-Learning untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Inggris. Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru, 7(2), 212–220. https://doi.org/10.51169/ideguru.v7i2.364

              Jejak Langkah Pendidikan Guru Penggerak

              Oleh: Eko Mulyadi (Guru Penggerak Angkatan 5 Kota Yogyakarta)

              SMK Negeri 3 Yogyakarta, Jl.W. Monginsidi 2 Yogyakarta

              Pendahuluan

              Setiap guru adalah penggerak bagi diri sendiri, murid-murid, bahkan lebih lagi bagi teman sejawat sesama guru, sekolah dan lebih luas lagi adalah bagi komunitas. Namun keabsahan guru penggerak perlu legalisasi sah dari program pendidikan guru penggerak yang diprakarsai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset Dan Teknologi (Kemdikbudristek) melalui Balai Guru Penggerak atau Balai Besar Guru Penggerak.

              Tidak banyak guru yang tertarik dengan tawaran program guru penggerak, meskipun berbagai upaya dari mulai sosialisasi, diseminasi,  selebrasi bagi mereka yang sudah menyelesaikan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) dari angkatan 1 sampai dengan angkatan 5 dari berbagai wilayah dengan pengukuhan ala wisuda.

              Gebyar pengukuhan melalui media sosial , media cetak dan media elektronik belum dapat optimal menarik seluruh guru di Indonesia untuk mengikuti pendidikan guru penggerak. Meskipun tertarik namun dengan seleksi yang begitu ketat mulai dari admininstrasi, pengisian borang pertanyaan dalam SIM PKB, tes mengajar, wawancara sampai pengumuman kelulusan akan menghasilkan calon guru penggerak yang berkualitas.

              Setelah dinyatakan lulus Calon Guru Penggerak (CGP), CGP akan didampingi oleh Pengajar Praktik yang langsung tatap muka atau luring ke sekolah CGP dan lokakarya, Fasilitator dengan pendampingan  secara daring di LMS dan tatap muka sinkronus dengan menggunakan google meet , serta setiap modul dalam SIM PKB akan dipertajam oleh Instruktur  secara  daring yang diikuti oleh seluruh angkatan CGP.

              Setidaknya CGP akan digembleng oleh Pengajar Praktik, Fasilitator dan Instruktur, sehingga isi  modul betul-betul dikupas tuntas bersama mereka. CGP harus menyelesaikan tugas-tugas secara mandiri terbimbing sesuai dengan deadline waktu yang ditentukan dan tidak boleh terlambat dalam mengumpulkan tugas karena konsekuensinya bisa tidak lulus apabila tugas diabaikan.

              CGP dalam rentang waktu tertentu 6 bulan yang awalnya angkatan 1 sampai dengan angkatan 4 menyelesaikan 9 bulan, sedangkan angkatan 5 dan seterusnya menjadi 6 bulan dengan menyelesaikan 10 modul dalam SIM PKB. Modul yang harus diselesaikan adalah : 1)  Refleksi Filosofis Pendidikan  Nasional-Ki Hajar Dewantara; 2) Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak; 3) Visi Guru Penggerak; 4) Budaya Positif; 5) Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid; 6) Pembelajaran Sosial dan  Emosional; 7) Coaching untuk Supervisi Akademik; 8) Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin; 9) Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya;  dan 10)  Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid.

              Permendikbud No. 40 Tahun 2021 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah, mempersyaratkan bahwa kepada sekolah memiliki Sertifikat Guru Penggerak. Namun tidak semata-mata iming-iming menjadi kepala sekolah. Beragam motivasi menjadi guru penggerak diantaranya menambah wawasan dan pengetahuan tentang isi kandungan guru peggerak, charge, update dan upgrade menjadi guru yang selalu menyenangkan dan berpihak kepada murid, menambah teman, saudara karena makin mengenal guru-guru yang mempunyai visi yang sama dalam memajukan pendidikan.

              Berkumpulnya calon guru penggerak dalam komunitas akan saling berinteraksi untuk berbagi, sehingga hasilnya akan diimplementasikan di dalam kelas sehingga membuat murid-murid akan senang dan bahagia di dalam kelas oleh para guru penggerak. Apabila murid senang dan bahagia maka waktu pembelajaran tidak terasa bahkan kurang dan kurang. Murid betah akan proses pembelajaran bahkan selalu menantikan akan pembelajaran yang sangat menyenangkan.

              Bergesernya paradigma tugas guru dari 7M yakni mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik , kini menjadi IMF akronim dari Inspirasi, Motivasi dan Fasilitasi. Berpihak pada murid sesuai ajaran Ki Hajar Dewantara, “menghamba” artinya bahwa murid sebagai subjek yang harus dimanusiakan dan diajak bicara sesuai keinginan dan mengawal bakat, minat dan potensinya untuk keselamatan dan kebahagiaan sebagai anggota masyarakat.

              Implementasi Filosofi Ki Hajar Dewantara

              Semenjak mengikuti Calon Guru Penggerak, banyak hal baru yang penulis dapatkan terutama inspirasi dari teman-teman CGP dalam kerja kelompok secara daring maupun luring, Praktik Pengajar pada lokakarya dan Pendampingan Individu, Instruktur yang mempertajam materi filosofi Ki Hajar Dewantara (KHD), serta berbagi pengalaman praktik baik tentang pendidikan pada elaborasi seluruh angkatan 5 di syncronous video konferensi Gmeet.

              Secara lengkap dikupas tuntas tentang pendidikan yang digagas oleh KHD : Pertama, pendidikan harus disesuaikan dengan kodrat alam dan kodrat zaman; kedua, pendidikan berpusat pada murid (student center); ketiga, anak terlahir mempunyai keunikan sendiri-sendiri , guru menuntun kekuatan kodrat yang dimiliki oleh anak sesuai minat, bakat dan potensinya;  keempat, anak bukan seperti kertas kosong (tabula rasa), tetapi anak sudah mempunyai sifat-sifat alamiah kebaikan, guru tinggal menebalkan lakunya atau garis yang samar-samar pada diri anak supaya mempunyai budi pekerti yang baik; kelima, guru seperti petani yang harus merawat, menjaga, memelihara tanaman padi atau jagung agar kelak tumbuh sebagai padi/jagung yang berkualitas unggul sehingga bermanfaat untuk orang banyak, begitu pula dengan anak harus agar kelak menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur, cerdas dan terampil; keenam, guru menjadi pemimpin pembelajaran harus ing ngarso sung tulada, didepan memberikan contoh, ing madya mangun karsa, didalam membakar semangat, tut wuri handayani, dibelakang memotivasi; ketujuh, pendidikan menjadi taman-taman bermain yang menyenangkan bagi anak, sehingga tidak ada paksaan, tekanan, hukuman, guru menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi anak; dan kedelapan, tujuan dari pendidikan untuk memberikan keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat.

              Perubahan-perubahan setelah mendalami filofosi KHD : pertama cara mengajar bisa menerapkan ice breaking misalkan diawali dengan yel-yel, semangat pagi, mana semangatmu, bagikan semangatmu, murid menjawab semangat pagi, ini semangatku sambil menepuk dadanya sendiri, nyoh…nyoh…yoh sambil melepaskan genggaman membuka jari-jarinya diberikan kepada teman-temannya. Bisa juga dalam pembentukan kelompok, semua murid berdiri kemudian bergerak melingkar berlawanan arah jarum jam (seperti tawaf), sambil bernyanyi lagu daerah (sosio kultural) misalkan gundul-gundul pacul, cublak-cublak suweng, lir ilir, setelah beberapa putaran guru mengatakan berhenti bentuk satu kelompok lima orang, hasilnya akan meriah semua siswa aktif. Ice breaking berikutnya siswa berdiri melingkar, kemudian menyusun kalimat dari mulai kata yang diberikan guru, misalkan dikaitkan pelajaran saya Proyek IPAS tentang energi,  Guru memberikan kata ‘Energi”, guru menunjuk orang pertama Si Abel, Abel menjawab : Energi Listrik, selanjutnya Abel menunjuk Lia, Lia menambahkan : “Energi Listrik Matahari”, dan seterusnya Lia menunjuk teman yang lain sampai tersusun 5-6 kata menjadi kalimat.

              Kedua, menjadikan siswa senang belajar setelah kelompok terbentuk melalui ice breaking, diberikan proyek membuat video kalau di mata pelajaran Proyek IPAS, adanya materi lembaga keuangan, murid dibagi 6 kelompok membuat video simulasi lembaga keuangan contoh aktifitas di Bank : Kelompok 1 dan 2, membuat video simulasi tentang cara membuka rekening di Bank, Kelompok 3 dan 4, membuat video tentang aktifitas pegadaian, cara mengadaikan barang, kelompok 5 dan 6, aktifitas koperasi, misalkan simulasi cara meminjam uang di koperasi. Dari mulai diskusi kelompok membuat skenario, presentasi hasil skenario, shooting ,editing sampai tayang, kemudian saling mengomentari hasil tayangan, akan menyenangkan bagi murd.

              Ketiga, asesmen yang menyenangkan dengan aplikasi kahoot atau quiziz, guru membuat naskah di soal di kahoot, kemudian di kelas guru memberikan kode masuk kahoot, murid dengan hpnya masuk dengan kode tersebut, kemudian setelah seluruh siswa masuk, dimulai seluruh siswa mengerjakan dengan senang hati karena langsung terlihat berapa murid yang menjawab dengan benar dan salah, ada keseruan saat mengerjakan dengan kahoot, menarik, senang ,langsung akan terlihat disana hasil pekerjaanya.

              Keempat, dengan menggerakan seluruh civitas sekolah yakni murid, guru dan karyawan. Kami meluncurkan program Gertimunmas, gerakan tiga puluh menit untuk membersihkan area sekolah yang dilaksanakan pada Jumat pagi dari pukul 06.45-07.15 WIB, kegiatan siswa membersihkan kaca, pintu, lantai kelas, halaman kelas laci-laci siswa dari sampah, disana ada gotong royong, bernalar kritis, beriman bertaqwa karena kebersihan sebagian dari iman, mandiri, kreatif, berkhebinekaan global seperti harapan menuju profil pelajar Pancasila.

              Kelima, program Jampi Salit, jalinan menulis publikasi ilmiah semangat literasi, dengan mengadakan coaching mendatangkan expert dari praktisi jurnalis harian kedaulatan rakyat dan atau penulis handal, agar teman sejawat termotivasi untuk menulis di media koran, buku ber-ISBN, hasilnya hampir setiap mingguan ada teman sejawat masuk kolom opini atau pikiran pembaca Kedaulatan Rakyat, selain sebagai publikasi ilmiah juga bisa dinilaikan untuk angka kredit kenaikan pangkat pada publikasi ilmiah karena bagi ASN mulai pangkat III/b ke atas wajib punya publikasi ilmiah.

              Keenam, program desiminasi hasil penelitian, kawan-kawan guru yang mempunyai hasil penelitian seperti best praktis, penelitian tindakan kelas, penelitian research and development, penelitian pengaruh, agar seminarkan dihadiri minimal 15 orang, 3 dari sekolah lain serta mengundang reviewer dari akademisi maupun praktisi agar mereview kelayakan hasil penelitian. Hasil Penelitian sebagai syarat untuk naik pangkat mulai golongan III/d ke atas.

              Banyak inspirasi yang diperoleh dari teman-teman CGP, PP dan Instruktur, sehingga bisa langsung diterapkan terutama memerdekaan diri sendiri dan orang lain, anak/murid, teman sejawat, pengembangan bagi sekolah dan manajemen sekolah. Merdeka bathin dengan pendidikan, merdeka lahir dengan pengajaran. Mari senantiasa menjadi manusia merdeka yang growth mindset, selalu menerima perubahan dan merespon dengan cepat, semua aktifitas itu bermuara untuk murid, murid dan murid.

              Visiku Menjadikan Murid Percaya Diri

              Visi adalah arah, pandangan, target dan tujuan yang akan dicapai dengan ajaran Ki Hajar Dewantara yakni 3N Niteni, Niroke dan Nambahi serta prakarsa perubahan menggunakan dengan pisau alur BAGJA yakni Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan  rencana dan Atur eksekusi.

              Penulis mengibaratkan sebuah pohon yakni akarnya adalah alur Bagja – 5D ( Define, Discovery, Dream, Design, Deliver), batangnya adalah 3N- ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi), dan daunnya adalah IA  (Inkuiri Apresiatif) yaitu upaya perubahan positif yang melibatkan proses penyelidikan sistematis.

              Visi saya sebagai guru penggerak adalah terwujudnya murid yang percaya diri dan kreatif sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. Dengan mewujudkan dalam pembelajaran murid aktif, pembelajaran seperti taman bermain, ada yel-yel penyemangat, suasana senang ketika berdiskusi, percaya diri melalui presentasi, pembelajaran outing class, kolaborasi, saling memotivasi dan menginspirasi.

              Imajiku murid masa depan akronim manggul bawal kepanjangannya yakni beriman, unggul, berwira usaha, berbudaya Yogyakarta, dan berwawasan lingkungan. Pertama, beriman dan bertaqwa, fokus pada kegiatan murid yang taat ibadah sesuai agama yang dianutnya, toleransi, mempertebal keimanan dengan pengajian bagi yang Muslim, retret bagi yang Kristen. Kedua, unggul dalam disiplin, patuh, taat peraturan dimanapun berada serta mengikuti berbagai ajang lomba akademik seperti Lomba Kompetensi Siswa (LKS), olimpiade bidang pelajaran dan non akademik bidang olahraga, seni dan sebagainya.

              Ketiga, berwira usaha, melalui pembelajaran produk kreatif dan kewirausahaan, pelatihan-pelatihan siswa di asah berjiwa enterpreunership, mampu menjadi personal branding dan marketing. Keempat, berbudaya DIY, “uri-uri” kebudayaan dengan berpakaian gagrak Ngayogyakarta setiap Kamis Pahing, menghidupkan karawitan, seni tari khas Yogyakarta, ketoprak, geguritan dan gending-gending Jawa Yogyakarta.

              Kelima berwawasan lingkungan, menaruh sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan lingkungan dengan program Gertimunmas- Gerakan tiga puluh menit untuk membersihkan area sekolah, kegiatan setiap Jumat Pagi murid, guru dan karyawan, sebelum kegiatan belajar mengajar pada jam pertama.

              Membudayakan Positif Lingkungan

              Semua visi akan menjadi budaya positif di SMK N 3 Yogyakarta, dengan disiplin positif menebalkan laku murid pada nilai-nilai kebajikan universal. Mengimplementasikan teori kontrol dari Dr. William Glasser yakni Ilusi guru mengontrol murid, penguatan positif efektif dan bermanfaat, kritik dan membuat orang merasa bersalah, orang dewasa memiliki hak untuk memaksa.

              Ada 3 motivasi perilaku manusia menurut Diane Gossen dalam Buku Restructuring School Decipline yaitu untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Kalau menurut saya sebagi calon guru penggerak tidak terpengaruh oleh ketiganya, penanaman nilai kesadaran diri dan orang lain bahwa motivasi saya menjalankan amanah sebagai profesi guru serta didasari ibadah mengharap Ridha sang Illahi, bukan karena hukuman, penghargaan atau pujian orang lain. Semuanya itu hanya ekses dari kegiatan yang kita lakukan.

              Keyakinan kelas  terdiri dari dua model yaitu pertama model T terdiri dari hormat, kerja dan rasa diterima.  Kedua model Y : terlihat, terdengar dan berperilaku. Semua model tersebut menumbuhkan kesadaran bagi murid dan guru, kalau ada perilaku yang menyimpang dari nilai-nilai kebajikan universal maka diingatkan melalui keyakinan kelas. Sehingga tercipta suasana lingkungan yang aman, dan nyaman bagi murid dan guru atas keyakinan kelas tersebut.

              Ada 5 kebutuhan dasar : bertahan hidup, kesenangan, penguasaan, kasih sayang, kebebasan. Kelimanya ada pada diri setiap insan, perhatian kelimanya akan menumbuhkan kebahagiaan utamanya bagi murid, sehingga pembelajaran akan bergairah dengan senantiasa memperhatikan kebutuhan dasar tersebut.

              Guru penting dalam menggontrol murid sesuai dengan 5 posisi kontrol yakni penghukum, pembuat merasa bersalah, teman, pemantau, dan manajer. Saya sebagai guru hampir pernah melakoni kelimanya hanya yang paling dominan sebagai teman, karena diera kini tentang pengetahuan sudah murid miliki dan dengan mudah bisa didapatkan melalui media digital, sehingga guru tinggal mendampingi seperti teman sharing saja. Sebagai pemantau dan manajer menginggatkan siswa utamanya pembentukan karakter dan budaya positif. Dalam menangani pelanggaran aturan pentingnya menerapkan segitiga restitusi. Segitiga resitusi adalah sebuah proses untuk menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka. Langkah-langkah segitiga rstitusi ada tiga yakni meyakinkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan.

              Implementasi budaya positif ini saya merancang program pelkita kepanjangan dari pelangi kebajikan di tangga. Tahapan yang dilakukan adalah pertama, sosialisasi tentang budaya positif dan kebajikan universal kepada warga sekolah, dan manajemen; kedua, nilai-nilai kebajikan dituliskan di tangga-tangga yang ada di sekolah utamanya agar di baca oleh murid dan guru, sebagai bentuk internalisasi nilai-nilai kebajikan; ketiga, pemantauan dan testimoni kepada murid dan guru atas tulisan-tulisan kebajikan dan bentuk-bentuk perilaku kebajikan universal melalui wawancara atau angket dan keempat, laporan praktik baik budaya positif dipublikasikan melalui media cetak dan media elektronik agar bisa memotivasi, menginspirasi dan bermanfaat.

              Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi

              Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mendukung kebutuhan semua murid, guru merespon dan mengakomodir kebutuhan tersebut. Dalam pembelajaran  berdiferensiasi guru memperhatikan kesiapan siswa (readiness), kemampuan awal bisa dilakukan dengan asesmen diagnostik non akademik contohnya kondisi sosial, budaya dan ekonomi murid, utamanya perasaan senang, bahagia, atau sedih. Bisa dengan asesmen awal akademik. Misalkan mau mempelajari makhluk hidup dan lingkungannya sudah sejauh mana murid belajar tentang ekosistem : simbiosis, jaring-jaring makanan, sehingga guru bisa melanjutkan, mempertajam atau mengembangkan.  Kesiapan belajar diibaratkan equalizer : bersifat dasar-transformatif, konkrit-abstrak, sederhana-kompleks, terstruktur-terbuka, tergantung-mandiri, lambat-cepat.

              Dilanjutkan minat belajar murid lebih kepada bidang yang ingin ditekuninya, bidang keahlian yang disenanginya, sehingga  murid akan merasa bahagia dalam proses pembelajarannya. Guru juga mendalami profil murid tentang latar belakang, gaya belajar visual, auditori dan atau kinestetik. Dengan mengetahui diferensiasi murid maka guru bisa optimal dan berkreasi dalam mendukung pembelajaran mereka secara individu.

              Diferensiasi lingkungan belajar dengan memperhatikan ergonomi : suhu, kelembaban, ventilasi, pencahayaan ruang kelas, setiap murid pasti kemauan berbeda-beda. Strategi mendiferensiasi konten :  materi pengetahuan, konsep, dan keterampilan yang perlu dipelajari murid berdasarkan kurikulum dengan menyiapkan materi beragam bisa buku, poster, video, Tiktok, Instagram, artikel. Mendiferensiasi proses yakni memberikan pendampingan, membuat kelompok belajar, memberi kesempatan murid untuk memilih, memberikan pilihan kepada murid mau bekerja sambil berdiri atau duduk. Diferensiasi produk yaitu bukti bahwa murid telah memahami apa yang telah disampaikan, murid bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai konten inti dari materi, bisa lewat tulisan, diagram, demonstrasi, gambar.

              Penilaian pembelajaran bisa dilakukan saat sebelum, proses maupun akhir, penilaian berkelanjutan. Saat pre tes juga bisa dilakukan untuk mengetahui keadaan awal murid dalam kemampuannya, penilaian terhadap proses atau formatif untuk lebih mengenal murid lebih baik tentang sikap, pengetahuan dan keterampilannya.

              Diferensiasi bukan berarti bahwa guru harus dapat memenuhi kebutuhan semua individu setiap saat atau setiap waktu. Namun, guru memang diharapkan dapat menggunakan berbagai pendekatan belajar sehingga sebagian besar murid menemukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Guru merespon dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan belajar murid.

              Hipnotis Murid dengan PSE

              Pembelajaran sosial emosional (PSE) berbasis kesadaran penuh (mindfulness) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah yang memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Tujuan PSE ada 5 kompetensi yakni kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

              Penjabaran dari : 1) kesadaran diri dengan memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi; 2)  manajemen diri dengan menetapkan dan mencapai tujuan positif; 3) kesadaran sosial  yaitu merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain; 4) keterampilan berelasi dengan membangun dan mempertahankan hubungan yang positif; dan 5) membuat keputusan yang bertanggung jawab.

              Pencapaian pembelajaran sosial emosional, terdiri dari tiga yakni peningkatan Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE), lingkungan belajar yang supportif, peningkatan positif pada diri sendiri, respek dan toleran terhadap orang lain, dan lingkungan sekolah. Ketiganya untuk peningkatan perilaku positif, penurunan perilaku negatif, penurunan tingkat stress, peningkatan performa akademik murid.

              Fakta yang terjadi murid yang berkembang secara sosial dan emosional, pada saat yang sama mereka pun berkembang secara akademik, mengabaikan pengembangan keterampilan sosial dan emosional akan membawa efek buruk secara akademik, pembelajaran sosial dan emosional harus diimplementasikan secara sengaja.

              Implementasi PSE dilaksanakan di kelas/ sekolah, keluarga dan komunitas. KSE di kelas/sekolah dengan pengajaran eksplisit, terintegrasi dengan praktik mengajar guru dan kurikulum, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, penguatan KSE pendidik dan tenaga kependidikan.  Dalam penguatan KSE pendidik dan tenaga kependidikan maka terlebih dahulu menjadi teladan, belajar dan berkolaborasi. Pembelajaran PSE untuk mencapai well-being (kesejahteraan psikologis).

              Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

              Pengalaman mewawancarai dua Kepala Sekolah SMKN 3 Yogyakarta, Bujang Sabri dan Kepala Sekolah SMKN 4 Yogyakarta , Setyo Budi Sungkowo., tentang sebuah kasus.

              Kasus : “Hari ini murid-murid kelas XI di SMK “X” senang sekali karena mereka akan melakukan studi Kunjungan Industri ke Jakarta, Bogor dan Bandung sebagai bagian program sekolah Kunjungan Industri (KI). Untuk mengikuti studi KI ini, setiap murid harus membayar biaya ekstra personal. Ada 7  murid yang belum membayar , oleh karena itu mereka tidak akan mengikuti studi kunjungan industri  ini, salah satunya adalah Mario, seorang murid yang sangat cerdas, juara LKS, dan berprestasi. Murid-murid yang tidak bisa mengikuti studi lapangan sudah diberikan tugas pengganti oleh guru produktif, yaitu mencari industri di sekitar Yogya, yang secara substansi sama dengan tugas yang dilakukan murid-murid lain yang berstudi lapangan ke Jakarta Bandung”.

              Ketika murid-murid sedang sibuk mempersiapkan diri untuk naik ke dalam bus pariwisata yang akan membawa mereka ke Jakarta Bandung, Ibu Reza, guru produktif  sekaligus ketua panitia studi lapangan ini, melihat Mario datang ke sekolah bersama orangtuanya. Mario membawa ransel dan terlihat siap untuk bergabung dalam kegiatan ini. Orangtua Jony mengatakan pada Ibu Reza bahwa anaknya sangat ingin mengikuti kegiatan ini, dan memohon agar Mario diperbolehkan mengikutinya dan mereka berjanji akan membayar dengan cara mencicil.  Ibu Reza bingung sekali dengan situasi tersebut. Akhirnya Ibu Reza pun mengajak orang tua Mario untuk bertemu dengan kepala sekolah.

              Bila Anda berada dalam posisi Kepala Sekolah, apa yang akan Anda lakukan? Menurut peraturan, Mario tidak bisa mengikuti program studi Kunjungan Industri karena belum membayar biayanya, namun Kepala Sekoah sadar betul, kalau ia menerapkan peraturan itu, Mario akan sedih dan kecewa, karena ia sudah mempersiapkan diri dan sangat ingin mengikuti kegiatan,  namun bila Kepala Sekolah memperbolehkan, bagaimana dengan murid lain yang juga belum membayar.

              Hasil wawancara kedua Kepala Sekolah mengidentifikasi kasus tersebut yang merupakan  contoh kasus  dilema etika, bahwa Mario diberi kesempatan mengikuti Kunjungan Industri dengan kelonggaran waktu melunasi biaya ekstra dengan cara mencicil atau mengangsur. Kedua Kepala sekolah mempunyai jawaban serupa dari mulai langkah pengambilan keputusan, tidak perlunya tata kala pengambilan keputusan karena insidental, manajemen pengambilan keputusan dibantu para wakil kepala sekolah, pembelajaran yang dipetik adalah pengambilan keputusan yang mengedepankan murid agar bisa mendapatkan pelayanan pendidikan dengan baik.

              Perasaan mendapatkan materi “Pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin” sangat senang, bahagia bercampur sedikit grogi karena harus mewawancari para Kepala Sekolah yang sangat sibuk pekerjaannya, sehingga harus melakukan janjiaan terlebih dahulu karena beliau harus meluangkan waktu sekitar   30 menit untuk diwawancarai. Kendala itu bisa diatasi, waktu sangatlah berharga meskipun hujan turun lebat namun Saya sebagai CGP harus mendapatkan hasil, dengan mewawancarai Kepala Sekolah SMKN 4 Yogyakarta yang jaraknya sekitar 10 Km dari SMKN 3 Yogyakarta.

              Hal baru yang diperoleh dari  Modul  “Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin” adalah dalam seorang pemimpin dalam mengambil sebuah keputusan didasarkan pada 4 paradigma yakni individu melawan kelompok, keadilan melawan kasihan, kebenaran lawan kesetiaan dan jangka pendek melawan jangka panjang, 3 prinsip yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking),  Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking) dan 9 langkah : 1)mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, 2) Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, 3) Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini, 4) Pengujian benar atau salah : Uji legal,uji regulasi/ Standar professional, Uji intuisi, uji publikasi, uji panutan/idola, 5) Pengujian paradigma benar lawan benar : 4 prinsip paradigm, 6) Melakukan prinsip resolusi, dengan 3 prinsip penyelesaian dilemma : berpikir berbasis hasil akhir, peraturan dan rasa peduli, 7) investigasi opsi trilemma, 2 pilihan dan 1  luar pilihan, 8) Buat keputusan dan 9) lihat lagi keputusan dan refleksikan.

              Hal-hal positif terkait dengan Modul “ Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin” adalah (a) sebagai individu yakni 1)mengetahui tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin; 2)dalam pengambilan keputusan tidak sekedar sesuai intuisi saja tetapi penuh pertimbangan yang lain; dan 3)dalam mengambil keputusan jadi terstruktur karena adanya acuan ini; (b) sebagai pemimpin yakni 1)dalam pengambilan keputusan sesuai 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah;2)setelah adanya acuan dari modul ini dalam mengambil keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin yang diharapkan bisa memuaskan semua pihak dan 3)keputusan yang diambil tetap didasarkan pada hasil rapat (musyawarah) namun tetap mengacu pada rumus 439.

              Kendala, hambatan dan resiko dalam pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan adalah Kendala yaitu 1)sinkronisasi waktu karena kesibukan; 2)komunikasi belum optimal; dan 3)keputusan masih berbasis kepentingan.  Hambatan yaitu 1)ada pada peraturan yang harus ditaati; 2)komitmen terhadap hasil keputusan yang tidak ditaati dan 3)ketidakpuasan terhadap hasil keputusan. Resiko yakni : 1)keputusan tidak bisa memuaskan semua pihak; 2)komitmen hasil keputusan harus ditaati; dan 3)adanya sanksi bagi yang tidak taat dari hasil keputusan

              Ide-ide yang muncul setelah mengalami peristiwa terdiri :1)pengambilan keputusan didasarkan pada 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah; 2)sering berlatih terhadap penanganan kasus-kasus di sekolah khususnya dan dunia pendidikan umumnya;3)pengambilan keputusan dilakukan secara bersama-sama dengan staf unit lain di sekolah, tetap mengacu pada rumus 439; 4)membangun komunikasi yang baik dalam pengambilan keputusan bersama dalam pemecahan suatu masalah ;dan 5)memperkecil dampak dan resiko dalam pengambilan keputusan dengan testimoni kepada pihak yang bermasalah.

              Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya

              Dalam mengambil sebuah keputusan maka seorang pemimpin harus memikirkan kekuatan asset (modal) dan kelemahan (deficit), pengelolaan sumber daya. Tujuannya adalah visi misi sekolah yang telah disepakati oleh warga sekolah. SMKN 3 Yogyakarta mempunyai visi sekolah yakni “Manggul Bawal” akronim dari Terwujudnya murid yang beriman, unggul, berjiwawirausaha, berbudaya, dan berwawasan Lingkungan.

              Dalam mewujudkan visi misi sekolah didukung 7 aset sumber daya yakni : manusia (murid, guru, kepala sekolah, pengawas, kadinas, industri, orang tua/komite sekolah), Sosial (MGMP Sekolah, MGMP Kabupaten/Kota dll, RT,RW lingkungan sekitar), Lingkungan/Alam (cagar budaya, kalicode, tugu dsb), Fisik/Sarpras (ruangan, proyektor, laptop, pc dsb), Finansial (Pembiayaan yang dibutuhkan untuk melaksanakan program sekolah), Politik (Kebijakan pusat, daerah, kepala sekolah), agama-budaya (Kegiatan saling toleransi antar umat beragama di sekolah, pelaksaan bregodho, mertikalicode). Tujuh aset tersebut dalam rangka mewujudkan visi sekolah

              Dengan mengoptimalkan 7 aset tersebut maka pemimpin adalam mengelola sumber daya manusia akan mudah, tinggal komunikasi, networking-jaringan, pemberdayaan (empowering) dan akan muncul pencerahan (enlightening).

              Aset atau modal yang dikelola ini diharapkan bisa untuk memajukan kualitas layanan pendidikan sehingga mengantarkan murid dengan minat, nakat dan potensinya menjadi manusia yang seutuhnya memperolah derajat keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai diri sendiri dan anggota masyarakat.

              Guru bertugas menuntun dan menebalkan laku murid, memfasilitasi dan mengelola sesuai kodrat alam dan zamannya.

              Kesimpulan

              Pendidikan dikembalikan kepada ruhnya yaitu filosofi Ki Hajar Dewantara bahwa setiap murid itu mempunyai minat, bakat dan potensi yang harus difasilitasi, dan dikembangkan. Peran guru sebagai among menuntun dan menebalkan laku murid dalam mengapai cita-cita yang diinginkannya.

              Guru penggerak yang digembleng oleh Pengajar Praktik secara luring, Fasilitator dan Instruktur secara daring serta materi dengan 10 modul yaitu : 1)  Refleksi Filosofis Pendidikan  Nasional-Ki Hajar Dewantara; 2) Nilai-nilai dan Peran Guru Penggerak; 3) Visi Guru Penggerak; 4) Budaya Positif; 5) Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid; 6) Pembelajaran Sosial dan  Emosional; 7) Coaching untuk Supervisi Akademik; 8) Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin; 9) Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya;  dan 10)  Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid.

              Modul yang didalami baik secara teori, praktik maupun penugasan bisa diterapkan dalam pembelajaran yang berpusat pada murid, menyenangkan, memfasilitasi diferensiasi, coaching potensi, minat dan bakat murid.

              Menjadi guru yang dirindukan oleh murid merupakan harapan besar. Pembelajaran yang menggembirakan, menyenangkan, menginspirasi, dan memotivasi akan mengantarkan murid-murid menjadi pribadi yang uggul, selamat dan bahagia setinggi-tingginya untuk menjadi dirinya sendiri dan anggota masyarakat. Semoga.